POJOKSATU.id — Sejak pemerintah resmi menghapus Ujian Nasional (UN) pada masa pandemi Covid-19, penilaian akhir kelulusan siswa kini bergantung sepenuhnya pada Ujian Sekolah (US) yang diselenggarakan masing-masing sekolah.
Pergantian sistem evaluasi ini tak hanya soal teknis, tetapi juga menyentuh aspek fundamental dalam dunia pendidikan. Lantas, apa sebenarnya perbedaan antara Ujian Nasional dan Ujian Sekolah?
Evaluasi Sebagai Pilar Pendidikan
Evaluasi akademik adalah bagian esensial dalam sistem pendidikan.
Dari sinilah kemampuan siswa diukur, keefektifan pembelajaran dievaluasi, serta strategi pengajaran diperbaiki.
Dengan evaluasi yang baik, guru bisa tahu di mana letak kekuatan maupun kelemahan peserta didiknya. Bagi siswa, evaluasi menjadi cermin pencapaian dan pemahaman terhadap materi.
Di Indonesia sendiri, bentuk evaluasi akademik secara umum pernah dibagi ke dalam dua model utama: Ujian Nasional yang bersifat terpusat, dan Ujian Sekolah yang bersifat lokal.
Kedua sistem ini sejatinya memiliki tujuan sama—menilai capaian siswa—namun pendekatannya sangat berbeda.
Perbedaan Mendasar: Standar hingga Penyelenggara
Ujian Nasional, sebelum dihapus, digelar serentak oleh pemerintah pusat dengan materi dan jadwal yang sama di seluruh Indonesia.
Tujuannya untuk memastikan adanya standar kompetensi kelulusan secara nasional.
Dengan begitu, hasil UN bisa digunakan untuk memetakan kualitas pendidikan di berbagai daerah.
Berbeda dengan itu, Ujian Sekolah kini menjadi kewenangan penuh pihak sekolah.
Kurikulum, bentuk soal, hingga pelaksanaan sepenuhnya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik masing-masing.
Sekolah punya keleluasaan menyesuaikan ujian dengan pembelajaran yang mereka terapkan.
Materi Ujian: Umum vs Kontekstual
Dari sisi materi, UN merujuk pada kurikulum nasional yang seragam. Artinya, semua siswa, di manapun mereka berada, harus menguasai kompetensi dasar yang sama.
Sementara itu, US bisa lebih fleksibel. Sekolah diperbolehkan menambahkan materi yang lebih relevan dengan kondisi lokal atau kebutuhan siswa.
Ini membuat Ujian Sekolah lebih adaptif terhadap konteks pembelajaran yang sebenarnya berlangsung.
Siapa yang Menyelenggarakan?
Pelaksanaan UN sepenuhnya berada di tangan Kementerian Pendidikan.
Mereka menyusun soal, menentukan jadwal, serta menilai hasil akhir secara nasional. Dengan demikian, ada keseragaman dalam setiap prosesnya.
Di sisi lain, Ujian Sekolah adalah otonomi lembaga pendidikan. Guru dan sekolah memiliki tanggung jawab mulai dari penyusunan soal hingga penilaian akhir.
Inilah yang kemudian memberi keleluasaan, namun juga tantangan soal objektivitas dan standar yang tak seragam.
Kelebihan dan Kekurangan Masing-Masing
Ujian Nasional memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya standarisasi penilaian yang memudahkan perbandingan antarwilayah, serta menjadi alat ukur kualitas pendidikan secara nasional.
Namun, kelemahannya pun tak sedikit. UN dinilai terlalu menekankan hasil akhir, mengabaikan aspek individualitas siswa, dan rentan menyebabkan tekanan psikologis akibat beban kelulusan.
Sebaliknya, Ujian Sekolah menawarkan fleksibilitas tinggi.
Siswa dinilai dalam lingkungan yang mereka kenal, dengan materi yang lebih sesuai pembelajaran.
Hal ini cenderung mengurangi tekanan dan mencerminkan kemampuan siswa secara lebih utuh.
Meski begitu, kurangnya standarisasi membuat perbandingan antar sekolah sulit dilakukan, serta membuka celah potensi bias dalam penilaian.
Belajar Tetap Jadi Kunci
Apapun bentuk ujiannya, semangat belajar tetap harus dijaga. Setiap siswa diharapkan terus meningkatkan diri agar siap menghadapi evaluasi, baik berbentuk UN di masa lalu maupun US yang kini jadi penentu kelulusan.
Latihan soal, diskusi kelompok, hingga mengikuti pembahasan edukatif dari pojoksatu.id bisa menjadi cara efektif untuk memperkuat pemahaman. Jangan lupa, ajak teman-temanmu belajar bersama agar semangat tak padam! ***




