POJOKSATU.ID - Dalam rangka mempersiapkan momentum panen raya padi tahun ini, pemerintah mengambil langkah strategis dengan menunda sementara program intervensi perberasan yang dilaksanakan melalui Perum Bulog.
Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga harga gabah di tingkat petani tetap stabil selama periode panen yang sedang meningkat.
Sebaliknya, di tingkat konsumen, pasokan yang melimpah secara alami akan menstabilkan harga beras di pasaran.
Baca Juga: Bapanas Hentikan Sementara Bansos Beras, Apakah Alasanya Karena Efisiensi Anggaran Lagi?
Kepala Badan Pangan Nasional (NFA), Arief Prasetyo Adi, mengungkapkan hal tersebut dalam wawancara cegat bersama para pewarta di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, pada Rabu (5/2/2025).
Arief menegaskan bahwa penundaan ini bersifat sementara dan akan kembali digulirkan setelah panen raya berakhir, khususnya ketika Indonesia memasuki masa paceklik.
Ia menambahkan bahwa apabila beras terus digelontorkan selama panen raya, harga gabah dikhawatirkan akan anjlok.
Baca Juga: PENTING! Batas Waktu Pemutakhiran Data Dapodik untuk PIP 10 Februari 2025!
Oleh karena itu, pemerintah mengupayakan agar harga tidak jatuh terlalu rendah demi kesejahteraan petani.
Sebaliknya, saat masa paceklik, intervensi perberasan akan kembali dilakukan untuk memastikan harga beras tetap terkendali di pasaran.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), rerata harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sepanjang 2024 tercatat paling rendah terjadi pada April, yaitu Rp 5.686 per kilogram.
Baca Juga: Kementerian PUPR Batalkan Lelang Konsultan: Efisiensi Anggaran Jadi Alasan Utama
Sementara itu, harga beras medium mencapai titik terendah pada Mei di angka Rp 12.071 per kilogram.
Bulan April dan Mei sendiri merupakan puncak panen raya tahun lalu, dengan produksi beras masing-masing sebesar 5,38 juta ton dan 3,71 juta ton.
Melihat tren ini, pemerintah kini lebih proaktif dalam menjaga harga gabah agar tetap menguntungkan bagi petani.
Arief juga menegaskan bahwa langkah ini dilakukan untuk memastikan Bulog dapat fokus dalam menyerap hasil panen dengan target 3 juta ton setara beras.
Keputusan ini bukan karena kendala anggaran, melainkan agar anggaran yang ada bisa dialokasikan secara optimal untuk menyerap produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Baca Juga: Bapanas Hentikan Sementara Bansos Beras, Apakah Alasanya Karena Efisiensi Anggaran Lagi?
Dalam publikasi 'Hasil Survei Pertanian 2024' yang dirilis BPS pada 24 Januari lalu menunjukkan hasil yang menggembirakan dan perlu terus didorong guna mencapai target swasembada pangan nasional.***




