POJOKSATU.ID, MEDAN - Kasus viral terkait seorang siswa SD yang disuruh duduk di lantai karena nunggak bayar SPP adalah penerima Program Indonesia Pintar (PIP).

Kasus MI (10) yang merupakan siswa kelas 4 di SD Swasta Yayasan Abdi Sukma telah menjadi perhatian warganet se Indonesia.

MI terlihat duduk di lantai karena menunggak bayar SPP padahal ia menerima bantuan PIP.

Namun, setelah ditelusuri lebih lanjut, permasalahan ini ternyata lebih kompleks.

Baca Juga: Kick-Off Meeting Program dan Anggaran 2025, Dirjen Bina Adwil Minta Jajaran Sukseskan Asta Cita Presiden

Yayasan Abdi Sukma yang berada di Jalan STM No 42, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan merupakan sekolah wakaf yang berdiri sejak tahun 1963.

Yayasan tersebut telah memberikan kebijakan pembebasan SPP selama enam bulan pertama dalam setahun untuk membantu siswa dari keluarga kurang mampu.

"Kami memberikan beasiswa selama enam bulan pertama untuk meringankan beban siswa dari keluarga kurang mampu," ungkap Ketua Yayasan Abdi Sukma, Ahmad Parlindungan kepada wartawan, Senin (13/1/2025).

"Misi kami adalah memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan belajar yang sama," sambung Ahmad.

Baca Juga: Sandy Permana Sempat Kendarai Motor Listri dan Temui Seseorang Sebelum Ditemukan Tewas

Diceritakan Ahmad bahwa sekolah Abdi Sukma ini viral setelah adanya pemberitaan di media massa terkait perundungan terhadap salah satu siswa kelas 4 SD berinisal MI yang belum bayar uang SPP dan dihukum belajar di lantai kelas oleh wali kelasnya.

Bantuan PIP Diambil Sang Ibu

Ahmad mengatakan jika MI pelajar kelas 4 bersama saudaranya di kelas 1 SD, masing-masing mendapatkan bantuan PIP yang ditransfer ke rekening ibunya, Kamelia pada 21 April 2024 dan diambil pada 22 April 2024 sebesar Rp450.000.

"Itu dananya masuk tanggal 21 April 2024, diambil orang tuanya tanggal 22 April 2024. Karena kami dari pihak sekolah tidak ada menahan-nahan informasi itu karena begitu dana itu masuk langsung kita kabari sama orang tuanya," tutur Ahmad.

Ditambahkan Ahmad, saat itu Kamelia tidak langsung membayarkan uang sekolah anaknya.

Baca Juga: Prediksi Skor dan Susunan Pemain Chelsea vs Bournemouth, The Blues ke Jalur Kemenangan Lagi?

"Seandainya itu dibayarkannya langsung pasti tidak ada tunggakan. Karena sekolah ini menggratiskan uang sekolah itu selama 6 bulan dari Januari hingga Juni. Bulan Juli sampai Desember itu bayar," jelas Ahmad.

Dari informasi yang diperoleh, sebanyak 131 siswa di Yayasan Abdi Sukma ada 79 orang menerima bantuan PIP, termasuk anak-anak Kamelia.

Ahmad menyampaikan bahwa tujuan sekolah Abdi Sukma adalah memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak yang kurang mampu dan yatim piatu, serta sudah menggratiskan uang sekolah selama enam bulan, dari Januari hingga Juni.

Meskipun begitu, MI mengalami tunggakan pembayaran uang sekolah setelah periode gratis berakhir, dan pembayaran untuk bulan Juli hingga September 2024 baru dilakukan orang tua MI pada 8 Juli 2024.

Baca Juga: Prediksi Skor dan Susunan Pemain Chelsea vs Bournemouth, The Blues ke Jalur Kemenangan Lagi?

"Ibu MI itu bayar uang sekolah anaknya setelah dapat PIP pada April 2024, dia membayar uang sekolah anaknya tanggal 8 bulan Juli dia bayar uang sekolah Mahesa tiga bulan dari bulan Juli sampai September 2024. Terus nunggak lagi sampai menerima raport dari Oktober sampai Desember 2024," terang Ahmad.

Sekolah Abdi Sukma ini terus berupaya mencari sumber dana tambahan untuk menunjang operasional dan memberikan bantuan yang lebih besar kepada siswa.

Program PIP telah menjadi salah satu sumber pendanaan yang signifikan, namun sekolah tetap bergantung pada donasi dan sumber lain.

"Kami khawatir pemberitaan negatif ini dapat berdampak pada kelanjutan program PIP di sekolah kami," ujar Ahmad.

"Kami berharap masyarakat dapat memahami situasi kami dan terus mendukung upaya kami dalam memberikan pendidikan berkualitas," tambahnya.

Baca Juga: DIBEBERKAN KEMENDIKDASMEN! Ternyata Ini Lho Penyebab Hasil Seleksi Administrasi PPG Guru Tertentu Tahun 2024 Belum Juga Diumumkan

SPP Lunas Anak Mau Dipindahkan
Ahmad mengatakan bahwa setelah kabar tentang tunggakan uang sekolah MI menjadi viral baik di media sosial dan pemberitaan, Ikhwan Ritonga, Wakil Ketua DPRD Sumut, turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan melunasi tunggakan uang sekolah MI.

Serta membantu menyelesaikan pembiayaan sekolah untuk kedua anak Ibu Kamelia hingga tamat.

Polemik semakin berkembang ketika Ibu MI, Kamelia mengungkapkan keinginannya untuk memindahkan kedua anaknya dari Yayasan Abdi Sukma karena ketidaknyamanan yang dirasakan.

Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan.

Ahmad memastikan bahwa sekolah tidak memberikan tekanan apapun kepada siswanya dan berkomitmen untuk membuat suasana belajar yang kondusif.

Baca Juga: PBM 2025 : Inilah Daftar 30 Prodi UIN Jakarta untuk Jadi Pilihan bagi Calon Mahasiswa Jalur Seleksi SPAN PTKIN

Meskipun telah menerima berita negatif, pihak yayasan berusaha keras untuk mendapatkan dana tambahan melalui bantuan pemerintah agar dapat terus menyediakan pendidikan gratis bagi anak-anak yang membutuhkan.

Pihak sekolah berharap agar kondisi Yayasan Abdi Sukma tidak dievaluasi atau terpengaruh akibat berita viral yang beredar, karena hal ini dapat merugikan banyak anak yang tengah menimba ilmu di yayasan tersebut.

"Kami mohon agar sekolah kami tidak dievaluasi hanya karena satu isu. Pendidikan anak-anak adalah prioritas kami," pintanya.

Yayasan Abdi Sukma terus berupaya untuk mencari dana agar dapat membantu sebanyak mungkin anak-anak yang membutuhkan pendidikan terbaik di tengah keterbatasan yang ada.

Baca Juga: Hasil Final Malaysia Open 2025, Tempatkan Lima Wakil di Final, China Gagal Mendominasi, Gelar DIbag-bagi

Sekolah ini terus berupaya mencari sumber dana tambahan untuk menunjang operasional dan memberikan bantuan yang lebih besar kepada siswa.

Program PIP telah menjadi salah satu sumber pendanaan yang signifikan, namun sekolah tetap bergantung pada donasi dan sumber lain.

"Kami berharap masyarakat dapat memahami situasi kami dan terus mendukung upaya kami dalam memberikan pendidikan berkualitas," tandas Ahmad. ***