POJOKSATU.id - Pada Rabu, 20 November 2024, Mendikdasmen Abdul Mu’ti bersama Wamendikdasmen Atip Latipulhayat melakukan kunjungan ke SMP Prima Cendekia Islami, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 

Tujuan kunjungan ini adalah untuk melihat langsung bagaimana pembelajaran coding diterapkan di sekolah tersebut, sebuah program unggulan yang membantu meningkatkan literasi teknologi siswa.

Di sela-sela kunjungan, Abdul Mukti berbincang dengan wartawan yang hadir. Salah satu pertanyaan yang mencuri perhatian adalah soal keresahan masyarakat terkait menurunnya etika dan budi pekerti generasi muda. 

Baca Juga: Selain Sehat, Ini Manfaat Program Makan Bergizi Gratis yang Disampaikan Mendikdasmen saat Kunjungan Uji Coba Pertama di Kulonprogo, Yogyakarta

Wartawan itu bertanya, “Apakah akan ada mata pelajaran khusus tentang Budi Pekerti yang dimasukkan ke dalam kurikulum nasional?”

Dengan nada tenang dan penuh keyakinan, Abdul Mu’ti menjawab bahwa pemerintah tidak berencana menambahkan mata pelajaran Budi Pekerti sebagai mata pelajaran mandiri dalam kurikulum.

"Tidak perlu, karena sudah ada pelajaran agama yang mengajarkan nilai-nilai budi pekerti. Namun, kami ingin pendidikan nilai ini terasa di setiap mata pelajaran, bukan hanya di pelajaran agama atau kewarganegaraan," jelasnya.

Baca Juga: Ujian Nasional Diterapkan Kembali? Ini Suara Guru di Temu Pendidikan Nasional XI oleh KGBN, Bagaimana Hasilnya?

Ia menjelaskan bahwa pendidikan karakter tidak seharusnya menjadi tanggung jawab satu pelajaran saja, melainkan harus terintegrasi dalam seluruh proses pembelajaran.

Sambil tersenyum, Abdul Mu’ti memberikan penekanan. 

"Bahkan dalam pelajaran olahraga. Dari situ, anak-anak bisa belajar sportivitas, kerja sama, dan sikap ksatria, siap menang dan siap kalah. Kalau tidak dilatih, bisa saja mereka tumbuh dengan keinginan menang melulu dan tidak siap kalah. Hal seperti ini penting untuk membentuk karakter mereka," tuturnya.

Baca Juga: Isu Kembalinya Ujian Nasional Semakin Mencuat, Begini Tanggapan Pakar PSPK

Ia juga menambahkan bahwa nilai pendidikan karakter bisa hadir di mata pelajaran lain. Misalnya, seni mengajarkan anak-anak untuk menghargai karya orang lain, sementara pelajaran sains menanamkan nilai kejujuran dan pentingnya bekerja secara teliti.

Abdul Mu’ti menekankan bahwa pendidikan karakter adalah tanggung jawab seluruh guru, di setiap mata pelajaran.

"Kita ingin anak-anak tidak hanya pintar di bidang akademik, tetapi juga memiliki nilai-nilai yang baik. Semua guru bisa berperan, dari mata pelajaran apa pun. Bayangkan jika setiap pelajaran menjadi pintu untuk menanamkan karakter, hasilnya akan luar biasa," ujarnya dengan optimisme yang menular. 

Abdul Mu’ti mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama berperan dalam membentuk karakter generasi muda.

"Pendidikan adalah investasi terbesar untuk masa depan. Kita tidak hanya mencetak anak-anak yang cerdas, tetapi juga manusia yang santun, beretika, dan siap menghadapi dunia. Ini adalah tugas kita bersama," tutupnya.

Jawaban Abdul Mu’ti menunjukkan bahwa pendidikan karakter bukan soal menambah pelajaran baru, melainkan soal bagaimana kita menyisipkan nilai-nilai baik di setiap kesempatan. 

Sebuah pendekatan yang sederhana namun bermakna untuk masa depan generasi bangsa.***