POJOKSATU.id - Ada yang berbeda saat pembukaan resmi Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 11 pada Kamis (13/6/2024), kemarin.

Acara yang berlangsung secara langsung melalui Zoom dan kanal Youtube Ditjen GTK Kemendikbudristek itu menghadirkan kisah inspiratif seorang guru asal Pekanbaru.

Usaha untuk menghidupkan semangat pendidikan di Indonesia terus berlanjut. Salah satu contohnya terlihat dari semangat yang ditunjukkan oleh Kepala SMP Negeri 43 Pekanbaru ini.

Dialah Zuraida, yang berbagi cerita tentang perjuangannya dalam memajukan sekolahnya.

Walaupun sekolah ini secara administratif berada di Kota Pekanbaru, lokasinya yang lebih dekat ke Sungai Siak daripada pusat kota menyebabkan sekolah ini sering kebanjiran setiap tahun.

Baca Juga: Ini Dia Sosok Mbah Melan yang Viral Mengajar di TikTok Sampai Kehabisan Pulsa, Pensiunan Guru Matematika Ini Ternyata Lulus Double Degree!

Ketika banjir terjadi, proses pembelajaran tetap berlangsung seperti biasa. Namun, jika ada siswa yang tidak hadir selama tiga hari, para guru akan mengunjungi rumah mereka untuk memastikan bahwa kondisi siswa tersebut baik-baik saja.

“Memimpin sekolah ini adalah sebuah tantangan besar. Kondisi geografis tentunya sangat mempengaruhi aktivitas belajar mengajar,” ungkapnya mengawali perbincangan.

Tantangan lain yang dirasakan Zuraida adalah keterbatasan ruang kelas.

“Rombongan belajar (rombel) ada 10, sedangkan ketersediaan kelas hanya 6. Kalau minta bantuan Ruang Kelas Baru (RKB), meskipun dalam kondisi kurang, masalahnya sekolah kami tidak berada di daerah 3T, karena masuk daerah kota Pekanbaru,” terang dia.

Zuraida adalah seorang guru bahasa Indonesia yang telah mengabdi selama 28 tahun. Dia telah mengajar di banyak sekolah di Pekanbaru. Baru pada tahun 2021, ia diangkat menjadi kepala sekolah dan menjabat hingga sekarang.

“Saya diangkat jadi kepala sekolah saat masih mengikuti program Pendidikan Guru Penggerak (PGP),” ujarnya.

Baca Juga: Siapa Tri Adinata, Guru di Medan yang Viral Didatangi Alan Walker, Jadi Guru di Usia 19 Tahun dan Mengubah Pola Pembelajaran

Zuraida adalah Guru Penggerak Angkatan 1 yang menjalani pelatihan selama 9 bulan. Ternyata, pengalaman dan wawasan yang didapatkannya selama pelatihan, menjadi bekal untuk menghadapi berbagai tantangan di sekolah yang dipimpinnya itu.

Materi PGP memberikan banyak manfaat yang bisa membantu Zuraida dalam meningkatkan proses pembelajaran.

Sebelumnya, Zuraida mengaku cenderung pemarah, tetapi selama mengikuti PGP, ia memperoleh materi berharga tentang cara mengelola emosi.

Selain itu, menghadapi banyak tantangan, Zuraida merasa perlu adanya kerja sama yang kuat antara seluruh warga pendidikan untuk memajukan sekolah.

Ia juga belajar bagaimana bersikap dalam mengajar dan mengambil keputusan sebagai kepala sekolah. “Itu sebabnya, PGP bagi saya sangat luar biasa,” tegasnya.

Setelah mengikuti PGP, Zuraida menyadari bahwa perubahan ia bangun harus dilakukan secara bertahap dan konsisten. Terlebih melihat berbagai tantangan yang ia hadapi, seperti SDM guru.

Dapatkan info langsung Pojoksatu.id ke WhatsApp Anda: [Pojoksatu.id Edukasi]

Baca Juga: Cerita dan Tekad Calon Guru Penggerak Meisi Lukitasari, Saat Modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

“Kami masih kekurangan dua orang guru Bahasa Indonesia dan satu orang guru Bahasa Inggris. Ditambah lagi, jumlah siswa per kelas paling banyak 35 orang dan jumlah keseluruhan 333 orang,” ungkapnya.

Bahkan Zuraida juga mendapati bahwa tidak semua siswa memiliki motivasi untuk belajar, sehingga membutuhkan dukungan orang tua dan lingkungan.

Situasi yang harus dihadapi kepala sekolah ini membuatnya berkeyakinan bahwa pihak pertama yang harus diubah terlebih dahulu adalah guru sebagai motor perubahan.

Untuk itu, dalam berbagai kesempatan, ia selalu menanamkan bahwa guru harus mengubah pola pikir, membangun budaya positif, dan dapat mengelola emosi dengan baik.

“Sebagian hal yang diajarkan di PGP sudah saya lakukan. Saya mencoba mengajarkan ke teman-teman, namun butuh proses,” ungkap Zuraida.

Baca Juga: GURU PENGGERAK Simak 13 Juni 2024 Pembukaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 11 Tahun 2024, Jadwal Lengkap PGP Reguler-Dasus-Rekognisi-Intensif

Zuraida meyakini, jika sudah ada perubahan pada guru, maka peserta didik akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik.

Sejauh ini, bersama para guru ia mencoba menerapkan pembinaan berdasarkan hasil asesmen diagnostik. Jadi, ketika ada siswa yang datang terlambat atau tidak masuk sekolah, pihaknya tidak langsung memberi sanksi melainkan diberi pembinaan terlebih dulu.

“Kini, setiap hari Sabtu kami namakan Sabtu Ceria. Di hari itu, anak-anak menuangkan dan menceritakan apa saja yang mereka baca dari Senin sampai Jumat,” tutur Zuraida yang juga memberi kebebasan peserta didiknya untuk belajar di luar kelas.

Perubahan lain yang dilakukan adalah memastikan agar Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dapat dijalankan dengan baik.

Salah satunya adalah dengan membuat sebuah koperasi siswa. Tak hanya itu, ia juga berencana untuk membuat kesepakatan dengan komunitas Rumah Kreatif di Pekanbaru untuk memanfaatkan barang-barang bekas.

Baca Juga: Ribuan Sekolah Negeri TIDAK PUNYA Kepala Sekolah, Pemda Bisa Jalankan Regulasi Ini, PELUANG BESAR Bagi Guru Penggerak, Cek Tahapan Ini

Berbagai perubahan itu juga membawa SMP Negeri 43 Pekanbaru yang semula berada pada status akreditasi B,kini sudah mencapai akreditasi A.

Menyadari bahwa guru adalah motor pembelajaran, terobosan lain yang dilakukan Zuraida adalah mendekatkan guru dengan peserta didik.

Sebelum diangkat sebagai kepala sekolah, Zuraida mempunyai ide bahwa seorang wali kelas sebaiknya dapat mendampingi siswa dalam proses pembelajaran hingga tamat.

Share peliputan kegiatan pendidikan, silahkan follow dan message [Edugov]

“Jadi, konsepnya, setiap murid di suatu kelas memiliki wali kelas yang sama sampai tamat sekolah,” ucapnya.

Pada mulanya, ide tersebut butuh penyesuaian, terutama bagi sesama guru. Kemudian, sedikit demi sedikit, para guru mulai terbiasa. Zuraida juga melakukan refleksi bersama dan melakukan riviu atas apa yang sudah dijalankan. “Respons teman-teman sangat positif,” ucapnya dengan senang.

Baca Juga: Bersiap Jadi KEPALA SEKOLAH, 31.632 Dinyatakan LULUS GURU PENGGERAK Angkatan 9, Berikut Link Lengkap Surat Kelulusan se Indonesia

Zuraida yakin, ketika seorang wali kelas mengikuti siswanya ke kelas selanjutnya maka dapat terbentuk kedekatan (bounding) antara guru dengan siswa.

Dengan begitu, siswa tidak segan mengungkapkan permasalahan dirinya kepada guru tersebut. Sebaliknya, guru pun lebih tahu secara mendalam perihal perkembangan muridnya.

“Sebagai guru biasa saya tidak bisa membuat kebijakan seperti itu. Namun, ketika sudah menjadi kepala sekolah, gagasan itu baru bisa diwujudkannya. Ini bisa terjadi tak lain karena PGP memberikan kesempatan bagi Guru Penggerak untuk mengembangkan karir dan menerapkan berbagai terobosan,” lanjutnya.

Sejauh ini, Zuraida merupakan satu-satunya kepala sekolah dari SMP Negeri se-Pekanbaru yang memiliki sertifikat Guru Penggerak dan Asesor Sekolah Penggerak.

Baca Juga: Mengenal Guru Penggerak, Ini 5 Nilai dan Pedoman yang Harus Dimiliki Pemimpin Pembelajaran, Super Sekali!

Oleh karena itu, ada tanggung jawab baginya untuk memotivasi rekan-rekan di sekolah lain agar tidak terpaku di zona nyaman.

Meskipun ia menyadari bahwa tidak semua orang bisa menerima perubahan dan ajakan untuk berubah. Oleh karena itu, ia sangat bersyukur karena Kemendikbudristek menyediakan Platform Merdeka Mengajar (PMM) sebagai inspirasi untuk saling berbagi model pembelajaran dan memulai langkah perubahan.

“Sejauh ini, saya sudah turun ke lapangan sebagai narasumber sampai ke beberapa kecamatan di Provinsi Riau. Alhamdulillah, Dinas Pendidikan mendukung,” ujarnya

Zuraida terus berharap bisa membangun kolaborasi dengan banyak pihak. Baik kolaborasi untuk membangun sekolah, ataupun kolaborasi untuk menyebarkan praktik baik yang didapatkannya di PGP untuk mendorong sekolah lainnya.***