POJOKSATU.id - Di era modern, indikator pembangunan manusia bukan lagi berkutat di soal kesejahteraan ekonomi atau mata pencaharian saja.
Menurut Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), dimensi pembangunan manusia terdiri dari dua aspek utama.
Pertama, pembangunan manusia dikur dari peningkatan kemampuan manusia mencakup perpanjangan umur yang sehat, peningkatan pengetahuan, dan meningkatnya taraf hidup yang layak.
Sementara itu, aspek kedua melibatkan penciptaan kondisi yang mendukung pembangunan manusia, termasuk partisipasi dalam politik dan komunitas, keberlanjutan lingkungan, hak dan keamanan bagi setiap individu, serta terciptanya kesejahteraan dan keadilan sosial (Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Laporan Pembangunan Manusia 2015).
Baca Juga: Nama-nama Caleg PKS untuk DPRD Kabupaten Bandung Barat pada Pemilu 2024
Untuk itulah diperkenalkanlah istilah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) oleh UNDP pada tahun 1990 dan dipublikasikan secara berkala dalam laporan tahunan Human Development Report (HDR).
Karenanya, untuk mengejar angka IPM diperlukan perbaikan kualitas pendidikan dan memulai langkah dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada penduduk untuk mendapatkan pendidikan.
Di tahun 2010, komponen IPM dihitung dengan metode baru. Metode baru itu adalah angka harapan hidup saat lahir, harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, dan pengeluaran per kapita.
Di tahun itu pula seorang guru bernama Yuniarti ditempatkan di SMP Negeri 2 Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.
Baca Juga: Daftar Nama Caleg DPRD Kabupaten Bandung Barat dari Partai NasDem
Menurut data Badan Pusat Statistik, tahun 2010 angka IPM Kabupaten Bandung Barat hanya mencapai 61,34.
Kabupaten Bandung Barat yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Bandung memiliki luas 1.305,77 km2. Wilayah ini terbagi menjadi 16 kecamatan dan 165 desa.
Sedangkan Kecamatan Batujajar memiliki luas wilayah 32,04 km². Paling kecil. Hanya setara dengan 2,45% dari luas Kabupaten Bandung Barat.
Disanalah SMP Negeri 2 Batujajar berdiri. Tepatnya di Desa Pangauban yang memiliki 15.490 jiwa dan 4.768 KK.
Pada saat Yuniarti ditempatkan di sekolah tersebut, ia melihat kondisi hidup masyarakat di Batujajar rata-rata memang pra sejahtera, menengah ke bawah.
"Jadi setelah SMP masih banyak anak yang tidak melanjutkan sekolah. Jadi hanya selesai sampai SMP," ungkap perempuan yang akrab dipanggil Teh Ibey itu.
Teh Ibey bertutur, dulu ketika tidak ada SMP, mereka hanya sampai SD. Lalu ada sekolah satu atap, SMPN 2 Batujajar itu berdiri masih di SD, maka mereka melanjutkan ke SMP.
"Nah, biaya melanjutkan dari SMP ke SMA/SMK itu sangat mahal," tutur Teh Ibey.
Kondisi itulah yang mendorong ia dan rekan-rekan guru di SMP Negeri 2 Batujajar untuk membuat komunitas dengan aksi nyata mendorong dan membiayai siswa tidak mampu agar tetap melanjutkan pendidikannya.
Yuniarti kemudian mendirikan Batujajar Community Care (BCC) bersama sekelompok guru yang prihatin melihat realitas sosial di sekitar sekolahnya.
Selain Yuniarti, guru lain yang merintis BCC yaitu Atik Susanti, Eti Suprapti, Lilis Nuraeni dan Aliah.
"BCC mencari anak-anak yang memiliki antusias belajar yang baik, motivasi yang tinggi dan keluarganya juga support dan mereka dibiayai untuk melanjutkan pendidikannya ke SMA atau SMK," terang Teh Ibey.
Ia mengakui masuk SMA Negeri di wilayah Batujajar itu sangat sulit. Di wilayah itu, sekolah SMA Negeri hanya ada satu sekolah dengan persaingan masuk yang ketat. Belum lagi harus terkena aturan zonasi.
"Bagi mereka pilihannya adalah swasta.
Sementara untuk biaya masuk swasta itu tidak mudah. Harus ada SPP, uang bangunan, seragam dan seterusnya. Itulah yang dibiayai oleh BCC," jelasnya.
Bahkan bukan hanya biaya pendidikan saja yang dicarikan dan digalang oleh BCC, mereka yang melanjutkan sekolah juga didukung biaya transportasi bulanan untuk berangkat sekolah.
Anak-anak asuh itu tak hanya didorong untuk sampai ke SMA atau SMK, tetapi ada juga yang didukung sampai ke perguruan tinggi hingga akhirnya mereka menemukan kemandirian.
Biaya untuk melanjutkan pendidikan itu bukan dari pemerintah, tetapi dikumpulkan oleh BCC melalui donasi dengan pola 1 anak asuh ditanggung oleh 7 orang orangtua asuh yang besarannya tiap bulan menyumbang sebesar Rp 85.000 hingga Rp 100.000.
Anak-anak itu juga diberikan pengayaan-pengayaan dengan kegiatan workshop yang tidak didapatkan dalam pendidikan formal.
Pembekalan itu diantaranya fotografi, cooking class, workshop pranikah, enterpreneurship, bahkan kerjasama dengan beberapa universitas untuk pengabdian masyarakat seperti Telkom University, Sekolah Tinggi Teknologi Bandung, Himpunan Mahasiswa Seni Rupa FPSD UPI Bandung dengan cara melakukan mural bareng.
"Diperlukan usaha inovatif yang sungguh-sungguh guna memastikan bahwa semua individu dengan tingkat pendidikan rendah memiliki minat untuk melanjutkan pendidikannya, bertambah keterampilannya, tanpa terbatas oleh atribut formal pendidikan," tegas Yuniarti.
Dalam perkembangannya kini, BCC sudah memiliki program meluas dan partner kerjasama seperti Anton Susanto dari GSPI, Komunitas Mural Bandung, Deden M Sahid dari Bandung Film Commision dan Citra dari Cibunut Berwarna.
"Anak asuh ini dilibatkan dalam bootcamp ceria, misal diajak dalam produksi film pendek. Jadi anak-anak asuh ini mendapatkan pengalaman yang tidak mereka dapatkan dari sekolah," bebernya.
Banyak pula anak asuh yang sudah mandiri dan berhasil kembali memberikan donasi.
BCC mulai mengembangkan perhatiannya. Kondisi kesehatan anak asuh yang tumbuh dalam kekerdilan atau stunting juga menjadi perhatian mereka. Di sisi lain, angka pendidikan mulai membaik.
Dikutip dari BPS pada 2021, Kabupaten Bandung Barat tahun 2023 kini sudah mencapai 73,74 poin setekah sebelumnya hanya 61,34 poin di tahun 2010. Sedangkan IPM Kecamatan Batujajar tahun 2021 adalah 69,04.
Sebanyak 23,15 persen telah menyelesaikan pendidikan tingkat SMP, sementara 17,60 persen telah menamatkan pendidikan tingkat SMU/SMK.
Hanya sebanyak 3,35 persen dari penduduk tersebut yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi di Akademi atau Perguruan Tinggi. ***




