POJOKSATU.id - Ramai video beredar di media sosial TikTok yang menyampaikan informasi tentang inovasi Wolbachia dirancang untuk pengendalian wabah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Faktanya, berdasarkan pernyataan Kementerian Kesehatan dalam surat resmi yang diterima oleh Kementerian Kominfo inovasi teknologi Wolbachia justru untuk menurunkan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia.
Teknologi Wolbachia melengkapi strategi pengendalian yang berkasnya sudah masuk ke Stranas (Strategi Nasional).
Wolbachia sendiri adalah bakteri yang hanya dapat hidup di dalam tubuh serangga, termasuk nyamuk.
Baca Juga: 5 Mahasiswa UGM Pernah Ciptakan Plastik dari Biji Durian, Penelitian Masih Berlanjut
Wolbachia tidak dapat bertahan hidup di luar sel tubuh serangga dan tidak bisa mereplikasi diri tanpa bantuan serangga inangnya.
Ini merupakan sifat alami dari bakteri Wolbachia. Wolbachia sendiri telah ditemukan di dalam tubuh nyamuk Aedes albopictus secara alami.
Di Indonesia sendiri, teknologi Wolbachia yang digunakan, diimplementasikan dengan metode “penggantian”, di mana baik nyamuk jantan dan nyamuk betina Wolbachia dilepaskan ke populasi alami.
Tujuannya agar nyamuk betina kawin dengan nyamuk setempat dan menghasilkan anak-anak nyamuk yang mengandung Wolbachia.
Pada akhirnya, hampir seluruh nyamuk di populasi alami akan memiliki Wolbachia.
Baca Juga: Segera Daftar, UGM Buka Pendaftaran untuk S2 dan S3 2023, Ada Beasiswa Juga Loh!
Wolbachia berperan dalam mengeblok replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk.
Akibatnya nyamuk yang mengandung Wolbachia, tidak mampu lagi untuk menularkan virus dengue ketika nyamuk tersebut menghisap darah orang yang terinfeksi virus dengue.
Bahkan beredar juga sebuah informasi yang mengeklaim bahwa terdapat penyebaran nyamuk Wolbachia untuk membentuk genetik lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di masyarakat.
Salah satu akun ada yang mempostingnya di Facebook. Akun itu mengunggahnya pada 15 November 2023.
Berikut isi postingannya:
"Penyebaran nyamuk wolbachia adalah misi bill gates sebagai bapak LGBT sedunia,utk membentuk genetik LGBT melalui nyamuk tsb, yg mana Wolbachia berasal dari lalat drosophila, manusia akan jd vektor mekanik penyebar kerusakan genetik laki2 feminim. Mereka itu antek dajjal, kalau mereka bilang baik, padahal itu adalah buruk. Jngan mau di bodohi dengan mereka...emang mereka pikir siapa mereka."
Baca Juga: UGM Rilis Mata Kuliah Baru, Siapkan Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja!
Faktanya, klaim yang menyatakan bahwa penyebaran nyamuk Wolbachia untuk membentuk genetik LGBT di masyarakat adalah tidak benar.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Siti Nadia Tarmizi menyebutkan bahwa klaim yang beredar tersebut tidak benar.
"Klaim dalam postingan itu hoaks. Tidak ada hubungan antara nyamuk Wolbachia dengan LGBT," ujar dr Nadia.
Di sisi lain Wolbachia sendiri adalah bakteri yang dapat tumbuh alami di serangga terutama nyamuk, kecuali nyamuk Aedes aegypti.
Bakteri Wolbachia dapat melumpuhkan virus dengue, sehingga apabila ada nyamuk Aedes aegypti menghisap darah yang mengandung virus dengue akan resisten sehingga tidak akan menyebar ke dalam tubuh manusia.
Hingga saat ini tidak ditemukan klaim valid yang menyatakan bahwa penyebaran nyamuk Wolbachia untuk membentuk genetik LGBT di masyarakat.
Baca Juga: Cegah Penyebaran DBD, Pandawa Ganjar Bersama Masyarakat Serang Kompak Lakukan Bersih-bersih
Nadia menambahkan, saat ini program penyebaran nyamuk wolbachia terus dijalankan sesuai tahapan yakni di Bontang, Semarang, Kupang, Jakarta Barat, dan Bandung.
"Sementara di Bali masih dalam tahap sosialisasi, di sana kerjasama antara Pemda Bali dan World Mosquito Program," ujar Nadia menambahkan.
Sebelumnya, Kemenristek bersama Balitbangkes Kemenkes telah membentuk tim pakar inti independen yang beranggotakan lima orang yang ditugaskan untuk melakukan kajian analisis risiko. Tim inti ini berasal dari berbagai latar belakang.
"Tim kajian wolbachia juga melibatkan 19 orang pakar independen lainnya yang berasal dari kalangan perguruan tinggi, lembaga penelitian, lembaga swadaya masyarakat, dan kementerian," kata Nadia.
Siti Nadia Tarmizi menerangkan hasil kajian risiko yang dilakukan oleh tim pakar independen untuk penelitian teknologi Aedes aegypti ber- Wolbachia masuk pada risiko sangat rendah, di mana dalam 30 tahun ke depan peluang peningkatan bahaya (cause more harm) dapat diabaikan (negligible).
Baca Juga: Implementasi Wolbachia, Warga Ujung Berung Ternak Nyamuk Cegah Penyebaran DBD
Bill Gates kembali curhat panjang lebar soal isue nyamuk itu. Ilmuwan sekaligus crazy rich dunia itu cerita soal nyamuk yang menurutnya paling berbahaya di dunia.
Sebagai informasi, di tahun 2014, Bill Gates sempet mengunjungi Yogyakarta buat mendukung riset UGM memberantas DBD dan Malaria.
Lewat Bill & Melinda Gates Foundation dan UGM, mereka membuat terobosan cara memberantas nyamuk pembawa penyakit DBD di Yogya.
Bill Gates juga sempet meninjau proyek pemberantasan nyamuk DBD yang dilakukan peneliti FK UGM. Foto itu tersebar dan dikaitkan dengan isue LGBT.
Faktanya, Bill Gates mendanai riset dan membuat laboratorium di Kolombia yang isinya ada jutaan nyamuk. Nah, nyamuk-nyamuk di laboratorium itu disuntik bakteri bernama Wolbachia.
Bakteri Wolbachia ini diklaim bisa mencegah penyakit yang dibawa oleh nyamuk seperti DBD, Malaria, Zika, Cikungunya dan kawan-kawannya.
Baca Juga: Kowarteg Ganjar Lakukan Sejumlah Langkah Preventif Mencegah DBD di Kemayoran
Setelah jutaan nyamuk di lab itu disuntik bakteri, mereka dilepasin ke beberapa negara, salah satunya ke Yogyakarta, Indonesia.
Dengan harapan, nyamuk yang dieksperimen itu bisa ketemu sama nyamuk-nyamuk pembawa penyakit. Terus mereka kawin, berkembang biak, dan anak-anak nyamuknya jadi tidak berbahaya lagi buat manusia.
Bill Gates mengklaim, eksperimen dia berhasil. Kata dia, delapan tahun setelah nyamuk-nyamuk Wolbachia itu disebar di Yogyakarta, jumlah kasus demam berdarah di Yogyakarta turun 77 persen, dan yang dirawat di RS juga turun 86 persen.
“Hasil ini merupakan terobosan besar, menawarkan bukti bahwa teknologi baru ini akan melindungi seluruh kota dan negara dari ancaman penyakit yang dibawa nyamuk,” kata Bill Gates.
Bill Gates memberi nama eksperimen ini sebagai “Program Nyamuk Dunia”.
Selain di Indonesia, Bill Gates juga sudah menyebarkan nyamuk-nyamuk hasil eksperimennya ke 10 negara lain seperti Brasil, Kolombia, Meksiko, Sri Lanka, Vietnam, Australia, Fiji, Kiribati, Kaledonia Baru, dan Vanuatu.***




