POJOKSATU.ID - Penurunan fungsi kognitif yang kerap dialami kelompok lanjut usia (lansia) menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi. Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Cirebon menghadirkan inovasi terapi berbasis warna dan permainan edukatif dalam kegiatan yang berlangsung di Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Cirebon.

Kegiatan bertajuk “Implementasi Chromotherapy dan Puzzle Jigsaw O’Clock sebagai Upaya Pencegahan Gangguan Kognitif dan Peningkatan Kualitas Hidup pada Lansia” ini diikuti puluhan lansia berusia 60 hingga 74 tahun pada 18 Januari 2026.

Program tersebut dirancang untuk merangsang saraf motorik, meningkatkan konsentrasi, serta menjaga ketajaman daya ingat melalui pendekatan yang menyenangkan namun tetap berbasis ilmiah.

Tim PKM RisetMu Batch IX memperkenalkan chromotherapy atau terapi warna sebagai metode utama. Terapi ini menggunakan warna hijau yang dikenal memiliki efek menenangkan, mampu menurunkan tingkat stres, sekaligus memberikan stimulasi positif bagi fungsi otak.

Pendekatan visual tersebut kemudian dipadukan dengan permainan Puzzle Jigsaw O’Clock, sebuah media edukatif yang dirancang khusus untuk melatih koordinasi mata dan tangan serta meningkatkan fokus.

Baca Juga: TPG Sudah Cair Tapi Nominal Tidak Sesuai? Ini Penyebab Utama dari Data Dapodik hingga Validasi Jam Mengajar yang Sering Terlewat

Ketua tim pengabdian, Leya Indah Permatasari S.Kep., Ners., M.Kep, menjelaskan bahwa kombinasi kedua metode ini memiliki dampak signifikan dalam menjaga kesehatan mental lansia.

Bersama rekannya, Maulida Nurapipah S.Kep., Ners., M.Kep, ia menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan tidak hanya bersifat terapeutik, tetapi juga edukatif.

“Kami ingin menghadirkan metode pencegahan yang menyenangkan namun tetap saintifik. Chromotherapy membantu lansia merasa lebih rileks, sementara Puzzle Jigsaw O’Clock menantang otak mereka untuk tetap aktif,” ujar Leya dalam keterangannya, Rabu (1/04).

Suasana kegiatan berlangsung penuh keceriaan. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi, mulai dari diskusi awal hingga praktik langsung menyusun puzzle.

Interaksi sosial antar peserta juga menjadi nilai tambah, karena mampu menciptakan rasa kebersamaan yang berdampak positif terhadap kondisi psikologis lansia.

Baca Juga: Bupati Purwakarta Om Zein Peringatkan Mitra SPPG dan Yayasan: Jangan Mark-Up Harga, Itu Uang Negara untuk Rakyat!

Sebelum kegiatan praktik dimulai, tim pengabdi melakukan diskusi untuk mengidentifikasi berbagai masalah kognitif yang sering dialami peserta dalam aktivitas sehari-hari.

Selanjutnya, dilakukan pengukuran awal menggunakan instrumen SPMSQ (Short Portable Mental Status Questionnaire) dan WHOQOL-BREF sebagai pre-test guna mengetahui tingkat kognitif dan kualitas hidup peserta.

Melalui kegiatan ini, pihak universitas berharap metode sederhana seperti terapi warna dan permainan edukatif dapat diterapkan secara mandiri di rumah. Program ini juga menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas hidup lansia agar tetap sehat, aktif, dan produktif.

Inisiatif ini diharapkan mampu menjadi model pengabdian masyarakat berbasis inovasi yang tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga memberikan manfaat berkelanjutan bagi kesejahteraan lansia di masa depan.***