POJOKSATU.id - Pemantauan hilal untuk penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah akan dilakukan serentak di seluruh Indonesia pada 17 Februari 2026.

Di Jawa Barat, Kantor Wilayah Kementerian Agama menyiapkan 11 titik pengamatan yang tersebar di sejumlah daerah.

Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kanwil Kemenag Jawa Barat, Ohan Burhan, mengatakan salah satu lokasi pemantauan berada di Kota Bandung, tepatnya di Universitas Islam Bandung (Unisba), serta di Kabupaten Pangandaran.

Titik lain tersebar di beberapa kabupaten dan kota sesuai karakteristik wilayahnya.

“Pelaksanaannya serentak tanggal 17 seluruh Indonesia. Jawa Barat di 11 titik, di Kota Bandung di Unisba, Kabupaten Pangandaran dan lainnya,” kata Ohan, Kamis (5/2/2026).

Pemantauan hilal, lanjut Ohan, tetap mengacu pada ketentuan pemerintah, termasuk kriteria ketinggian hilal minimal tiga derajat.

Namun secara astronomi, peluang terlihatnya hilal di wilayah Jawa Barat tahun ini dinilai relatif kecil.

“Kita lihat dari sisi derajatnya, kemungkinan besar di Jawa Barat tidak akan terlihat, seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi tentu kita tetap berharap,” ujarnya.

Faktor cuaca juga menjadi variabel penting dalam rukyatul hilal.

Kondisi awan dan jarak pandang akan sangat menentukan keberhasilan pengamatan di lapangan.

Untuk kegiatan ini, setiap kabupaten dan kota akan menerjunkan lima petugas. Mereka berasal dari unsur Kemenag daerah, Badan Hisab Rukyat (BHR), serta perwakilan organisasi masyarakat Islam.

Total, sekitar 135 petugas akan terlibat dalam pemantauan hilal di Jawa Barat.

Sebagai bagian dari persiapan, Kanwil Kemenag Jabar telah menggelar bimbingan teknis bagi pengurus BHR tingkat kabupaten dan kota.

Kegiatan tersebut dilakukan selama dua hari menjelang pelaksanaan rukyatul hilal.

“Bimtek ini untuk memastikan kesiapan petugas, baik dari sisi teknis maupun pemahaman metode pengamatan,” jelas Ohan.

Dalam praktiknya nanti, pemantauan tidak hanya mengandalkan teropong modern.

Metode tradisional yang lazim digunakan di sejumlah pondok pesantren juga tetap dilibatkan sebagai pelengkap proses pengamatan.

“Selain teropong, ada juga alat tradisional seperti tongkat yang biasa digunakan pesantren. Semua sudah disiapkan,” kata Ohan.

Hasil pemantauan hilal dari berbagai daerah ini nantinya akan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam sidang isbat penentuan awal Ramadan.