POJOKSATU.ID – Ketua Kagama Cirebon Raya, Heru Subagia, mengungkapkan sejumlah pembahasan penting saat rombongan Kagama Cirebon Raya bersilaturahmi ke kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), di Solo.
Selain agenda silaturahmi, pertemuan tersebut turut menyinggung isu yang belakangan ramai diperbincangkan publik, termasuk polemik dugaan ijazah palsu yang menyeret nama Jokowi serta serangan terhadap putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka.
Heru menyebut, dalam dialog yang berlangsung hangat dan terbuka itu, dirinya secara tegas menyampaikan harapan agar Jokowi tetap konsisten pada komitmennya bahwa hukum harus menjadi solusi paling pasti dalam menyelesaikan berbagai tudingan yang berkembang.
“Sebagai alumni UGM, kami hanya menginginkan satu hal: kepastian hukum. Proses hukum yang sedang berjalan harus dituntaskan, tanpa kompromi, agar tidak terus menjadi bola liar di masyarakat,” ujar Heru.
Dalam pertemuan tersebut, Heru juga menyinggung serangan sejumlah pihak terhadap Gibran, termasuk terbitnya buku berjudul “Gibran End Game, Wapres Tak Lulus SMA” karya Rismon Sianipar, yang dinilai telah memvonis secara sepihak.
Baca Juga: Wabah Nipah Makin Menggila, Ini Cara Paling Efektif Lindungi Diri dari Virus Mematikan!
Menurut Heru, Kagama mendorong agar persoalan-persoalan tersebut diselesaikan melalui jalur hukum, bukan opini publik atau tudingan tanpa dasar. Ia bahkan menyarankan agar Gibran secara aktif menjaga dan menjemput nama baik dirinya maupun ayahnya.
“Kalau perlu, Gibran melanjutkan studi S2 di UGM. Itu sempat jadi bahan candaan, tapi justru mencairkan suasana. Pak Jokowi sampai tertawa, suasana jadi hangat dan penuh keakraban,” ungkapnya.
Heru menegaskan, Kagama tidak berada pada posisi membela individu, melainkan menjaga marwah institusi pendidikan dan kepastian hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kami tidak ingin bangsa ini terus disandera isu ijazah, baik Jokowi maupun Gibran. Ada persoalan yang jauh lebih besar dan penting untuk masa depan negara,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa Jokowi menyadari seluruh proses pembuktian keaslian ijazah harus ditempuh melalui persidangan, dan siap mengikuti mekanisme hukum yang berjalan.
Pertemuan tersebut, kata Heru, berlangsung dalam suasana kekeluargaan antaralumni UGM, diwarnai dialog serius namun juga diselingi canda, mencerminkan komunikasi yang terbuka dan saling menghormati.***




