POJOKSATU.id, Bandung - Dugaan penembakan macan tutul jawa di kawasan Gunung Sanggabuana, Kabupaten Karawang, membuat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi naik pitam.
Ia mendesak aparat penegak hukum bertindak cepat dan tegas, tanpa banyak alasan.
Bagi Dedi, kasus ini bukan sekadar soal satu satwa dilindungi yang terluka.
Ia melihatnya sebagai potret lama dari pengawasan yang bocor dan penegakan hukum yang setengah hati di kawasan konservasi.
Pemicu desakan itu datang dari sebuah video yang diterimanya.
Video tersebut diduga memperlihatkan aktivitas perburuan liar di kawasan Gunung Sanggabuana.
Rekaman itu, kata Dedi, akan diserahkan langsung kepada Kapolda Jawa Barat sebagai bahan awal penyelidikan.
“Kan sudah ada tayangan videonya. Nah tayangan videonya nanti akan saya sampaikan ke Pak Kapolda. Saya yakin Pak Kapolda Jabar itu cukup waktu 1x24 jam itu selesai,” ujar Dedi saat ditemui di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Jumat (23/1/2026) malam.
Ia menilai praktik perburuan liar di Sanggabuana bukan kejadian baru.
Aktivitas tersebut diduga telah berlangsung lama, tumbuh subur karena pembiaran.
Akibatnya, kawasan yang seharusnya steril justru mudah dimasuki pemburu.
“Problem kita dari dulu itu satu, pembiaran. Saya harapkan seluruh jajaran aparat di Sanggabuana melakukan tindakan-tindakan yang tegas terhadap siapa pun yang masuk untuk berburu,” tegasnya.
Sorotan juga diarahkan Dedi kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Menurutnya, keterbatasan personel dan kondisi polisi hutan tidak bisa terus dijadikan tameng untuk lemahnya penindakan.
“Jujur saja, saya tahu lapangan. Rata-rata memang tidak bertindak tegas. Polisi hutannya sudah tua-tua, tidak bersenjata lagi,” katanya.
Sebagai langkah lanjut, Dedi berencana mendorong penambahan jumlah polisi hutan untuk memperkuat pengawasan di Gunung Sanggabuana.
Ia berharap langkah itu bisa mempersempit ruang gerak perburuan satwa dilindungi yang masih kerap terjadi.
Kasus ini mencuat setelah seekor macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terekam kamera jebak dalam kondisi memprihatinkan.
Satwa langka tersebut terlihat berjalan pincang, tubuhnya kurus, dan diduga menjadi korban tembakan.
Video yang diunggah Sanggabuana Wildlife Ranger memperlihatkan luka pada kaki depan macan tutul yang diduga akibat senapan pemburu.
Rekaman itu memperkuat dugaan bahwa perburuan liar masih menghantui kawasan konservasi di Jawa Barat.
Kini, sorotan publik mengarah pada apakah hukum benar-benar bergerak cepat, atau lagi-lagi hanya berhenti di pernyataan.




