POJOKSATU.ID - Pengurus RW 012 Perumahan Griya Bintara membantah keras narasi pemberitaan yang menyebut banjir di wilayahnya disebabkan oleh aliran air dari kawasan Bintara Jaya, Bintara 17, maupun Bintara 14.

Klaim tersebut dinilai tidak memiliki dasar teknis dan mengabaikan fakta kontur wilayah serta sistem drainase yang sudah ada.

Pengurus RW 012 bidang pembangunan, Josef, menegaskan bahwa secara pemetaan dan struktur aliran air, tidak terdapat satu pun jalur yang memungkinkan air dari wilayah-wilayah tersebut mengalir ke Griya Bintara.

“Secara kontur dan arah aliran, tidak pernah ada air dari Bintara 17 yang mengarah ke Pondok Cipta apalagi ke Griya Bintara. Itu fakta teknis yang bisa dilihat dari pemetaan wilayah,” kata Josef, Jumat (23/1/2026).

Ia menjelaskan, aliran air dari Bintara 17 dan Bintara 14 justru mengarah ke Kali Cakung di kawasan Duta Kranji, bahkan sebagian mengalir ke arah Jalan Baru. Kondisi tersebut, menurutnya, sudah berlangsung lama dan tidak berubah.

Baca Juga: Jabar Siapkan Pengasuh Lansia Kompeten Bidik Pasar Global

Sementara itu, klaim bahwa banjir berasal dari Bintara Jaya juga disebut keliru. Josef menegaskan kawasan tersebut memiliki sistem aliran air tersendiri yang sama sekali tidak terhubung dengan Griya Bintara.

“Dari Bintara Jaya, khususnya kawasan Mas Naga, air mengalir melalui sungai sendiri, Kali Bong, yang bermuara di depan Grand Prima Bintara. Tidak ada jalur air dari sana ke Griya Bintara,” ujarnya.

Josef menilai, pemberitaan yang mengaitkan banjir Griya Bintara dengan wilayah lain dibuat tanpa verifikasi lapangan dan minim pemahaman teknis. Ia menyebut narasi tersebut terkesan dipaksakan dan berpotensi menyesatkan opini publik.

“Ini bukan soal saling menyalahkan wilayah lain. Tapi kalau bicara banjir, harus berbasis data, kontur, dan sistem drainase. Kalau tidak, informasinya jadi asal dihubung-hubungkan,” tegasnya.

Pihak RW 012 meminta media lebih berhati-hati dalam menyusun pemberitaan, terutama yang menyangkut isu lingkungan dan infrastruktur, agar tidak menciptakan persepsi keliru di tengah masyarakat maupun antarwilayah.***