POJOKSATU.ID – Pengamat politik Heru Subagia menilai munculnya popularitas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di tengah masyarakat dalam waktu singkat merupakan fenomena politik yang patut dicermati.

Dalam analisisnya, Heru menyebut bahwa meski baru menjabat belum genap sebulan di kabinet Prabowo–Gibran, nama Purbaya sudah menempati posisi tinggi dalam berbagai survei publik. Bahkan, beberapa rilis menyebutnya sebagai menteri terbaik di kabinet baru tersebut.

“Ini sesuatu yang aneh dan di luar prediksi. Bagaimana mungkin seorang menteri baru, dalam waktu sangat singkat, bisa langsung viral, dicintai masyarakat, dan disukai terutama oleh kalangan emak-emak,” ujar Heru Subagia saat dimintai pendapatnya, Jumat (10/10/2025).

Menurut Heru, fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai hal alamiah semata. Ia menduga ada desain besar di balik citra positif yang terbentuk secara cepat terhadap sosok Purbaya.

Baca Juga: Meresapi Manisnya Iman: Gus Nayil Kupas Shahih Bukhori di Pengajian Bulanan Pondok Pesantren Dar Al-Tauhid

“Saya melihat Purbaya ini berpotensi dijadikan proxy politik alat dalam perang asimetris yang dikendalikan oleh operator-operator politik canggih,” ungkap Heru.

“Rakyat sedang diarahkan untuk mencintai sosok tertentu, yang mungkin saja akan menjadi tokoh alternatif di kontestasi Pilpres 2029,” tambahnya.

Lebih jauh, Heru juga menyinggung konteks politik yang sedang memanas, termasuk maraknya isu ijazah palsu dan manuver tokoh-tokoh nasional. Di tengah situasi itu, kata dia, kemunculan figur Purbaya tampak seperti bagian dari skenario politik yang lebih besar.

“Saya melihat bahwa Purbaya bukan hanya muncul sebagai menteri fenomenal, tapi sudah disiapkan secara matang untuk kepentingan politik jangka panjang,” ujarnya.

Baca Juga: Bupati Aep Resmikan Parkland Bridge, Ikon Baru Kabupaten Karawang

Heru juga menyoroti masifnya dukungan di media sosial terhadap Purbaya. Menurutnya, ada indikasi mobilisasi buzzer yang sangat terorganisir untuk menjaga citra positif sang menteri.

“Ketika saya mencoba mengkritisi Purbaya di media sosial, langsung diserang ribuan akun mayoritas dari kalangan emak-emak. Ini menunjukkan ada kekuatan komunikasi digital yang disiapkan dengan baik,” paparnya.

Selain itu, Heru menilai pendekatan Purbaya kepada generasi muda melalui pernyataan dan unggahannya di media sosial juga bukan hal kebetulan.

“Dia tahu bagaimana membangun daya tarik lintas generasi. Dari emak-emak sampai anak muda dibuat kagum. Ini bukan spontanitas, melainkan strategi komunikasi politik yang sangat rapi,” jelasnya.

Baca Juga: Komite Reformasi Polisi, Ada Oknum Nih Didatangi Istri Sahnya Lagi di Rumah Janda

Heru menutup analisisnya dengan menyebut bahwa fenomena Purbaya menjadi contoh bagaimana politik era digital bisa membentuk persepsi publik dengan cepat.

“Apakah ini murni karena kinerja, atau memang bagian dari rekayasa politik menuju Pilpres 2029, waktu yang akan membuktikan,” pungkasnya.***