POJOKSATU.ID - Atmosfer dunia olahraga Kabupaten Cirebon tengah memanas. Sorotan tajam datang langsung dari orang nomor satu di daerah, Bupati Imron, yang kali ini tak segan melontarkan kritik pedas kepada Ketua KONI Kabupaten Cirebon, Sutardi Raharja.
Bukan dukungan yang diberikan, melainkan sindiran bernada sarkas yang menyinggung ketidakmampuan Sutardi dalam mengelola roda organisasi olahraga daerah.
Imron bahkan menyebut KONI Cirebon seperti kehilangan arah, terutama menjelang pelaksanaan Babak Kualifikasi (BK) Porprov yang makin dekat.
“Ngapain Sutardi harus mundur segala. Maju terus saja, kan dia banyak duit. Temuan saja dia bayar pakai uang sendiri. Itu juga kabarnya sih,” ucap Imron, dengan nada menyengat, Sabtu (9/8/2025).
Baca Juga: Ditetapkan Tersangka, Rumah Aspirasi H. Satori Sepi
Tak hanya itu, Imron juga mengungkap kabar bahwa jika anggaran hibah Rp4 miliar tak cair, Sutardi disebut-sebut siap menalangi dari kantong pribadinya.
Sebuah pernyataan yang membuat posisi Sutardi terdengar lebih seperti donatur abadi ketimbang pimpinan organisasi olahraga profesional.
Namun, Imron menegaskan bahwa kekuatan finansial bukan jaminan dalam memimpin KONI. Ia menyoroti kenyataan bahwa sejumlah pengurus memilih angkat kaki, bukan karena persoalan gaji, tetapi karena tak sanggup bertahan di tengah iklim organisasi yang dinilai tak sehat.
“Kalau satu dua orang mundur, masih bisa dimaklumi. Tapi kalau banyak? Itu sinyal kuat ada yang salah di tubuh KONI,” ujarnya.
Baca Juga: KUMPULAN SOAL Bahasa Inggris Kelas 8 SMP Semester Ganjil yang Wajib Dipelajari Sebelum Ujian
Imron pun menekankan bahwa konflik internal yang berkepanjangan bisa berimbas pada performa atlet di lapangan. Dan mempertanyakan kapan KONI bisa benar-benar fokus membina prestasi, jika energi habis untuk meredam kisruh internal.
“Kalau begini terus, kapan prestasi olahraga Cirebon bisa maju?” ujarnya.
Menariknya, meski kritikan dilontarkan terang-terangan, Imron mengaku tak akan memanggil langsung Sutardi. Alasannya jelas karena KONI bukan di bawah komando langsung bupati. Ia pun menyarankan agar KONI Jawa Barat turun tangan menyikapi kondisi ini.
“Kalau jabatan kosong, ya tinggal diganti. Masih banyak kok orang berkompeten. Yang penting, prestasi atlet jangan jadi korban,” tutupnya.***




