POJOKSATU.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi disosialisasikan di Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar pada Jumat (7/2).
Program yang digagas Presiden Prabowo ini bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia dan menekan angka stunting, sebagai langkah strategis menuju Indonesia Emas 2045.
Sosialisasi yang mengusung tema “Bersama Mewujudkan Gizi Berkualitas, untuk Generasi Sehat Indonesia” ini dihadiri lebih dari 300 peserta. Turut hadir perwakilan Komisi IX DPR RI, Nurhadi, Anggota DPRD Kabupaten Blitar, Sumaji, dan perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Nurjaeni.
Dalam pemaparannya, Nurhadi menjelaskan bahwa program MBG tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga memberdayakan petani, peternak, nelayan, dan UMKM lokal dalam penyediaan bahan pangan.
"Program ini bukan hanya soal memberikan makanan bergizi kepada anak-anak, tapi juga menggerakkan ekonomi lokal. Dengan memberdayakan petani dan UMKM, kita berharap ekonomi daerah ikut berkembang," ujar Nurhadi.
Baca Juga: Akibat Penyaluran Program Intervensi Beras Resmi Ditunda, Begini Tindak Lanjut Bapanas!
Nurhadi juga membagikan pengalamannya saat meninjau langsung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG di Desa Kepuh, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Ia memastikan proses produksi hingga distribusi makanan berjalan tepat sasaran.
"Kabupaten Tulungagung sudah memiliki tiga SPPG yang melayani sekitar 9.000 penerima manfaat. Ini bukti nyata program MBG mampu menjangkau masyarakat secara luas," tambahnya.
BGN Siapkan 102 Dapur MBG di Blitar
Perwakilan Badan Gizi Nasional, Dr. Nurjaeni, memaparkan bahwa Kabupaten Blitar membutuhkan 102 Dapur MBG untuk mendukung pemenuhan gizi anak-anak.
Kecamatan Kanigoro, tempat sosialisasi berlangsung, akan membangun enam dapur, sementara kecamatan lain seperti Ponggok, Binangun, dan Gandusari akan menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
"Saat ini, Kecamatan Ponggok dan Srengat telah mendaftar, dan BGN akan segera membangun tiga SPPG baru di Kabupaten Blitar," kata Nurjaeni.
Program ini juga akan melibatkan pondok pesantren sebagai mitra kerja sama, dengan harapan menciptakan generasi yang sehat, tinggi, dan cerdas sesuai prinsip Bergizi, Beragam, Seimbang, dan Aman (B2SA).
Menurut data BGN per 22 Januari 2025, sudah ada 245 SPPG yang tersebar di 38 provinsi. Ke depan, BGN menargetkan pendirian 30.000 Dapur MBG di seluruh Indonesia.
Nurhadi berharap program ini bisa segera diperluas ke daerah-daerah lain untuk mempercepat penurunan angka stunting di Indonesia.
"Program ini adalah langkah konkret menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045. Dengan generasi yang sehat dan berkualitas, kita akan mampu bersaing di kancah global," pungkasnya.




