POJOKSATU.ID - Debat kandidat Pilkada Kabupaten Indramayu yang digelar KPU Indramayu pada Senin (4/11) di Bandung menuai sorotan tajam dari para pakar komunikasi dan pengamat politik.
Dalam acara yang menampilkan tiga pasangan calon bupati, yakni Bambang Hermanto-Kasan Basari, Lucky Hakim-Syaefudin, dan Hj Nina Agustina-Tobroni, sejumlah pihak menilai debat ini terlalu banyak diwarnai serangan pribadi, sehingga kurang menonjolkan visi-misi untuk masyarakat.
Dr. Abdul Jalil Himawan, pakar komunikasi dari Universitas Gunung Jati Cirebon, menyayangkan bahwa para calon terkesan lebih sibuk menyerang satu sama lain ketimbang fokus pada visi-misi yang mampu menarik perhatian pemilih yang belum menentukan pilihan (swing voter).
Baca Juga: Polda Sumut Ajukan 231 Website Judi Online Untuk Diblokir Kominfo
"Debat seharusnya menjadi ajang meyakinkan publik, khususnya swing voter yang masih ragu," ungkap Jalil.
Jalil juga menyoroti pasangan calon nomor 02 yang tampak memiliki konflik pribadi dengan paslon nomor 03.
"Yang ditekankan dalam debat harusnya visi-misi, bukan kebijakan yang menyerang personal. Debat ini belum menunjukkan visi yang menyentuh aspek teknis," kata akademisi Unswagati Cirebon tersebut.
Sementara itu, Dr. Khaeruddin Imawan, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Unswagati, menambahkan bahwa debat kandidat bukan sekadar ajang pertarungan.
"Debat adalah kesempatan bagi calon pemimpin untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada masyarakat, bukan forum untuk menyerang lawan. Serangan personal antar kandidat harusnya dihindari," jelas Khaeruddin.
Dari sudut pandang politik, Firman Manan dari Indonesia Political Research Consulting (IPRC) menilai bahwa format debat harus menonjolkan visi dan misi dari masing-masing paslon.
Ia menyoroti bahwa paslon nomor 02 terlalu fokus menyerang lawan, sehingga justru melewatkan kesempatan menyampaikan visi-misi secara jelas.
Baca Juga: Kondisi Pasca Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, Banyak Rumah Rusak, Hingga Akses Jalan Tertutup
"Paslon 03, meskipun diserang, dapat menyampaikan visi-misi secara tenang dengan data keberhasilan sebelumnya. Sementara itu, paslon 01 menonjolkan keterampilan komunikasi wakil bupati, tetapi waktu sering kali habis sebelum visi-misi selesai dipaparkan," tambah Firman.
Firman juga mencatat segmen terakhir yang menarik perhatian, di mana paslon 01 dan paslon 03 menutup dengan pantun, sementara paslon 02 lebih banyak menyampaikan permohonan maaf dan tidak memanfaatkan kesempatan akhir untuk memperkuat visi-misi.
Debat publik ini menjadi penilaian penting bagi para calon bupati dalam menunjukkan kualitas komunikasi dan visi kepemimpinan mereka di hadapan masyarakat.




