POJOKSATU.ID - Di balik megahnya tembok Keraton Kasepuhan, sebuah tradisi berusia ratusan tahun kembali diselenggarakan dengan penuh khidmat. 

Ratusan warga dari berbagai penjuru berkumpul untuk menyaksikan prosesi Ngapem dan Tawurji, dua ritual yang menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual masyarakat Cirebon.

Di sekitar Keraton Kasepuhan, udara terasa sejuk dengan aroma kemenyan yang memenuhi suasana. Di Langgar Alit, tempat yang sarat nilai sakral, keluarga besar Keraton Kasepuhan berkumpul. 

Dipimpin oleh Pangeran Raja Muhammad Nusantara dan Patih Sepuh Kasepuhan, Pangeran Gumelar, serta sejumlah tokoh agama, mereka mengadakan doa bersama untuk bangsa Indonesia, memohon perlindungan dari segala bencana.

Baca Juga: Dorr! Polisi di Kulon Progo Bunuh Diri, Tembak Kepalanya Sendiri Pakai Pistol

Puncak prosesi ini jatuh pada Rabu Wekasan, Rabu terakhir di bulan Safar, yang dalam tradisi Islam sering dianggap sebagai bulan penuh tantangan dan cobaan. 

Karena itu, tradisi tolak bala ini dianggap sangat penting. Doa-doa dipanjatkan dengan harapan agar seluruh bangsa terlindungi dari musibah.

Setelah doa bersama selesai, prosesi dilanjutkan dengan Tawurji, di mana anggota Keraton Kasepuhan membagikan saweran uang kepada masyarakat yang telah berkumpul. Suasana yang penuh kegembiraan tampak jelas saat masyarakat menerima saweran tersebut.

"Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Kita berkumpul untuk berbagi kebahagiaan dan menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun," ungkap Pangeran Raja Muhammad Nusantara.

Bagi masyarakat, saweran uang ini lebih dari sekadar materi; ia adalah simbol rasa syukur dan kebersamaan. Tradisi ini menekankan pentingnya berbagi, terutama pada momen bermakna seperti Rabu Wekasan.

Patih Keraton Kasepuhan, Pangeran Gumelar, menjelaskan bahwa ritual ini memiliki makna mendalam sebagai bentuk permohonan ampun dan pembersihan diri dari dosa dan marabahaya. "Prosesi ini mengingatkan kita untuk selalu membersihkan diri, baik secara lahir maupun batin, agar senantiasa terjaga dari hal-hal buruk," ujarnya, Rabu (4/9/2024).

Prosesi di Keraton Kasepuhan tidak berhenti di sini. Dalam waktu dekat, akan dilaksanakan peringatan Maulid Nabi dengan prosesi Siraman Panjang. Tradisi unik ini melibatkan pencucian peninggalan keramat berupa piring Tafsi dan piring pengiring, yang kemudian diarak keliling keraton pada puncaknya.

Baca Juga: Murka Difitnah Mandul, Dewi Perssik Unggah Bukti Hasil USG Tanda Masa Subur

"Ini adalah momen penting bagi kita semua, tidak hanya bagi keluarga keraton, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Cirebon," ujar Pangeran Gumelar.

Tradisi-tradisi ini memperlihatkan betapa kuatnya akar budaya dan kepercayaan yang hidup di Keraton Kasepuhan. Setiap tahun, masyarakat dan keluarga keraton bersatu dalam doa, ritual, dan rasa syukur, menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi. Nilai-nilai kebersamaan, keimanan, dan kearifan lokal tetap dijunjung tinggi, menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas mereka.