POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), banyak bertebaran alat-alat peraga kampanye terpasang disembarang tempat tambah merusak estetika keindahan kota.
Setiap ada ruang kosong di pinggir-pinggir jalan, banyak baligho-baligho atau gambar-gambar para bakal calon kepala daerah, hasilnya merusak pemandangan mata.
Walaupun tidak ada larangan dalam melakukan sosialisasi agar dikenal oleh masyarakat, namun alangkah bijaknya bila pemasangan-pemasangan gambar-gambar itu dibuat serapih mungkin agar enak dipandang mata.
Baca Juga: Gegara Klarifikasi di Akun Gosip, Anji Bantah Gugatan Cerai dari Wina Natalia Settingan
Bukan hanya ruang kosong saja yang dipasangin gambar, pepohonan, tiang listrik hingga tiang telkom tidak luput dari pemasangan gambar-gambar para calon kepala daerah tersebut.
Kondisi itu mendapatkan kritikan keras dari Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Bangsa (GMPB) Asep Saepudin, karena merusak keindahan dan kebersihan kota.
“Itu gambar para bakal calon Bupati Tiang Listrik, Tiang Telkom dan Tatangkalan (pepohonan) harusnya ditertibkan, kalau tidak salah melanggar Perda K3,” kata Asep, mengawali pembicaraan kepada pojoksatu.id, Sabtu (25/05).
Seharusnya, lanjut Asep, para bakal calon kepala daerah memberikan arahan kepada team suksesnya agar memasang gambar tidak asal-asalan nempel dimana saja.
“Mereka (bakal calon kepala daerah) orang-orang yang mengenyam pendidikan, bahkan rata-rata memiliki gelar sarjana. Aneh saja, masang gambar di tiang listrik, tiang telkom bahkan di tatangkalan,” beber Asep.
Sehingga Asep berharap agar pihak-pihak terkait untuk menertibkan APK – APK tersebut, terutama yang melanggar Perda K3.
Baca Juga: Herti Herawati, Inisiator Reformasi Birokrasi Kalimantan Barat
“Atau sebelum ditertibkan Satpol PP, sebaiknya berkirim surat dulu kepada para bakal calon kepala daerah untuk menertibkan sendiri. Kalau terbukti melanggar K3,” tambah Asep.
Bila para bakal calon bupati tidak mengindahkan hal itu, berarti tingkat kepedulian terhadap keberdihan dan keindahan kota purwakarta rendah.
“Bagaimana mereka mau membangun dan peduli terhadap Purwakarta, yang ada malah mengotori dan merusak pandangan mata,” tutup Asep, mengakhiri pembicaraan.***




