POJOKSATU.id, PURWAKARTA - Joget Gemoy Prabowo Subianto terus menjadi inspirasi warga, bahkan joget yang dilakukan Prabowo itu sampai booming gerakannya diperagakan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Kemudian joget Gemoy juga dilombakan di berbagai tempat, salah satu yang mengadakan joget gemoy yaitu di Lembur Pakuan sebagai inspiratornya Kang Dedi Mulyadi (KDM).

Selain joget Gemoy, belakangan juga ada lomba bayi sehat dan gemoy dengan inspiratornya KDM yang berlangsung di Lembur Pakuan.

Baca Juga: Stand Up Comedy di Kampanye Anies, Aulia Rakhman Malah Tak Dibela Tim Hukum AMIN Usai Tersangka Penistaan Agama

Joget Gemoy itu merupakan kekhasan salah satu capres 2024, hal itu dilakukan dalam merespon aneka serangan lawan politik yang datang bertubi-tubi kepadanya.

Dengan adanya kata Gemoy itu menjadi latabelakang digelarnya Lomba Bayi Sehat dan Gemoy yang diadakan warga Kampung Pakuan Subang, Jawa Barat.

Meski baru diumumkan kurang lebih 5 hari sebelumnya, lomba yang berlangsung pada Minggu (10/12) pagi itu ternyata diikuti tak kurang dari 800 peserta.

Baca Juga: Stand Up Comedy di Kampanye Anies, Aulia Rakhman Malah Tak Dibela Tim Hukum AMIN Usai Tersangka Penistaan Agama

Suasana acara terasa sangat meriah karena membludaknya pengunjung. Terutama, karena pada setiap peserta lomba, rata-rata diantar oleh minimal tiga orang.

Sehingga, panitia tampak mengalami kerepotan dalam menyediakan konsumsi. Karena jumlah total baik peserta dengan pendamping lebih dari 3000 orang.

“Sebenarnya untuk konsumsi itu sudah kita antisipasi. Misalnya, karena peserta terdaftar ada 800 orang, maka kita siapkan konsumsi makan itu untuk 1000 orang. Eh...ternyata yang datang membludak, karena tiap peserta diantar oleh minimal 3 orang,” kata Pap Godo, salah satu panitia.

Baca Juga: Micro Finance Program UPLAND Dirasakan Petani dan Peternak

Kehadiran pengunjung yang diluar dugaan itu juga direspon oleh Dedi Mulyadi, salah satu tokoh Jawa Barat yang ikut hadir dan mendukung kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah, berkat kesigapan pantia, semuanya bisa teratasi. Tak ada pengunjung yang tak dapat konsumsi,” katanya.

Kepada sejumlah awak media, Dedi yang saat ini menjadi caleg DPR RI dari Gerindra itu mengungkapkan rasa senangnya melihat respon warga yang antusias datang dari berbagai wilayah di Jawa Barat.

Baca Juga: Asik dan Berprestasi, Sosok Yuni Shara Bintang Pelajar Terbaik di SMAN 5 Depok dengan Segudang Prestasi

Mereka datang baik sebagai peserta lomba maupun mereka yang sekedar hadir. Diantaranya, ada yang dari Tasik, Bandung, Cirebon, Cikarang Bekasi dan lain-lain.

Saat ditanya faktor apa yang mendasari banyaknya warga yang hadir dan daftar sebagai peserta, Dedi mengatakan, bisa jadi macam-macam.

Salah satunya, mungkin, karena faktor untuk dapat hadiah besar yang totalnya 100 juta rupiah. Atau mungkin juga karena sebagian warga ingin sekalian liburan dan hiburan.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Tempat Wisata Menarik di Kota Bogor, Cocok Masuk List Liburan Tahun Baru 2024!

Apakah mungkin tingginya antusiasme warga itu sebagai bentuk dukungan kepada Prabowo karena ada kata gemoynya? Mantan bupati Purwakarta dua periode ini mengaku tak mau berspekulasi terlalu jauh.

“Yang pasti, kegiatan ini bukan kampanye capres. Bahwa sebagian warga mendaftar karena tertarik ada kata gemoynya yang nota bene identik dengan Prabowo, itu soal lain. Masa orang suka ke Pak Prabowo karena ada gemoynya harus dilarang,” tegasnya.

Yang pasti, lanjut Dedi, jika pun ada unsur kampanyenya, maka yang dimaksud adalah kampanye untuk meningkatkan kesadaran warga terhadap ancaman gizi buruk buat anak-anaknya.

Baca Juga: Sosok Dhea Rizki Amalia, Salah Satu Bintang Pelajar Terbaik di Bogor Peraih Juara 1 Mojang Jajaka SMK Taruna Terpadu 3

“Makanya, yang dilombakan itu adalah Bayi Sehat dan Gemoy,” tegas Dedi.
Menurut Dedi, bisa saja, anak itu gemoy tapi tidak sehat. Atau tak apa-apa gemoy yang penting sehat.

“Nah, bagaimana caranya agar anak kita itu sehat, itulah misi utamanya. Salah satunya dengan mengampanyekan ancaman gizi buruk,” bebernya lagi.

Dalam pandangan Dedi, gizi buruk itu bisa macam-macam penyebabnya, Bisa karena faktor ekonomi, sehingga tak mampu membeli makanan sebagai bahan asupan gizi yang baik.

“Atau, secara ekonomi mampu, tapi tak mengerti cara mengelola pemberian asupan gizi tersebut,” tutup Dedi, mengakhiri pembicaraan.***