POJOKSATU.id - Banten dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Indonesia.

Wisata religi ke Masjid Agung Banten merupakan bukti peninggalan Kesultanan Banten sebagai kerajaan islam di nusantara.

Tidak heran jika provinsi ini kaya akan sejarah Islam yang jadi destinasi wisata religi.

Masjid Agung Banten telah menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin berziarah sekaligus menikmati keindahan wisata religi.

Baca Juga: Ustaz Sahabat Ganjar Beri Bantuan Alat Musik Nasyid, Kembangkan Keterampilan Remaja Masjid di Deli Serdang

Salah satu daya tarik utama dari wisata religi di Banten itu adalah makam tokoh besar penyebar agama Islam di Banten yakni Sultan Maulana Hasanudin Banten.

Kebanyakan peziarah datang melakukan wisata religi ke Makam Sultan Maulana Hasanudin Banten pada waktu libur dan momen-momen tertentu, seperti bulan Muharram atau awal pergantian tahun Hijriah umat Islam.

Masjid Agung Banten merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Dibangun pertama kali pada tahun 1556 oleh Sultan Maulana Hasanuddin.

Bangunan masjid ini telah berusia lebih dari 4 abad dan masih kokoh hingga saat ini.

Keunikan masjid ini dirancang oleh tiga arsitek yang berasal dari tiga bangsa yang berbeda.

Baca Juga: Seorang Remaja Curi Uang Kotak Amal Masjid Terekam CCTV Sambil Pura-pura Main HP

Bangunan masjid merupakan hasil perpaduan budaya Arab, China, dan Eropa.

Salah satu keunikannya adalah menara yang sepintas berbentuk mirip mercusuar.

Masjid Agung Banten berlokasi di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten.

Berwisata di Masjid Agung Banten akan membawa wisatawan membayangkan siar islam pada masa lampau, dari segi arsitekturnya yang memiliki makna simbolis.

Baca Juga: Ribuan Umat Islam Shalat Gaib dan Qunut Nazilah untuk Palestina di Masjid Istiqlal

Selain penziarah tidak jarang masjid ini menjadi tujuan bagi turis-turis asing yang ingin melihat keindahan sisa-sisa kejayaan Kesultanan Banten.

Banyaknya peziarah yang datang dari berbagai tempat, tentu mendatangkan berkah bagi masyarakat sekitar makam dan pasti dapat dihitung nilai ekonominya.

Karena adanya objek wisata religi dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar.***