POJOKSATU.Id - Kisah kontroversial Matty Healy, vokalis The 1975, dengan Malaysia masih menjadi topik hangat.
Sebelumnya, Matty Healy melakukan protes terhadap peraturan Malaysia yang mengecam komunitas LGBTQ.
Sekarang, Matty Healy kembali membicarakan insiden tersebut, mengungkapkan perasaannya ketika ia mencium Ross, bassistnya, beberapa bulan lalu.
Pengakuan ini Matty Healy buat saat menyanyikan lagu "Love It If We Made It" selama tur The 1975 di Dallas, Amerika Serikat.
Baca Juga: Berbagai Kontroversinya Menuai Kecaman, Matt Healy Vokalis The 1975 Mengaku Salah dan Minta Maaf
Pria berusia 34 tahun itu menjelaskan bahwa Matty Healy dan timnya mengira Malaysia sudah memahami pandangan dan profil The 1975.
"The 1975 tidak datang ke Malaysia tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kami diundang sebagai headliner festival oleh pemerintah yang telah memahami pandangan politik band The 1975 ini.
seperti yang dikenal oleh publik," kata Matty dalam pernyataannya di atas panggung.
"Pemahaman penyelenggara festival Malaysia tentang band ini adalah dasar dari undangan kami," tambahnya.
Matty mengakui bahwa tindakan mencium Ross di atas panggung bukanlah bentuk protes terhadap peraturan Malaysia terkait larangan LGBTQ.
Baca Juga: Tak Hanya Kasus Ciuman Sesama Jenis di Malaysia, Ini Daftar Kontroversi Matt Healy Vokalis The 1975
Menurut Matty, tindakan tersebut dilakukan karena itulah yang mereka inginkan, dan The 1975 telah melakukannya bahkan sebelum mereka mengunjungi Malaysia.
Selain itu, Matty juga menyatakan bahwa ia tidak berniat mengubah konsep dari tur dunianya. Bahkan, dalam daftar lagu yang dipilih.
Matty Healy dan timnya tidak banyak melakukan perubahan. Beberapa lagu mungkin memiliki makna yang bersifat pasif terhadap LGBTQ.
"Mencium Ross bukanlah tindakan yang dimaksudkan hanya untuk memprovokasi pemerintah.
Itu adalah bagian dari pertunjukan konser The 1975 yang telah kami lakukan berkali-kali sebelumnya," ungkap Matty.
"Memodifikasi rutinitas konser hanya untuk memuaskan pandangan fanatik pemerintah Malaysia terhadap komunitas LGBTQ.
Baca Juga: Banyolan Sheila On 7 di Panggung We The Fest 2023, Sindir Band The 1975 yang Batal Tampil
Akan menjadi bentuk dukungan pasif terhadap politik tersebut," tambah vokalis The 1975.
Meskipun kejadian itu menyebabkan Matty dan The 1975 menjadi sasaran kritik dan perbincangan publik, namun bagi Matty, kritik tersebut tidak memiliki dasar.
Menurutnya, kehadiran The 1975 dalam konser musik Malaysia saat itu hanya sebatas kebutuhan bisnis dari promotor.
"Menggambarkan konser The 1975 sebagai bentuk kolonialisme adalah pemahaman yang salah...
Kami sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk memaksakan kehendak kami kepada siapa pun di Malaysia," tegas Matty.
"Sebenarnya, pihak berwenang Malaysia-lah yang pernah menahan kami," tambahnya.
Matty Healy menolak tuduhan publik bahwa tindakan mencium Ross di panggung saat itu hanya akan membuat komunitas yang ia dukung semakin rentan.
Menurutnya, Matty Healy dan timnya datang ke sana dengan tujuan menghibur, dengan cara mereka sendiri.
Matty juga merasa bahwa langkah yang diambil oleh pihak promotor pada saat itu bisa berdampak buruk bagi industri musik secara keseluruhan.
"Gagasan bahwa seniman harus peka terhadap budaya lokal di mana pun mereka tampil adalah preseden yang sangat berbahaya," ujar Matty.
"Harus diakui bahwa jika kalian mengundang puluhan seniman Barat ke negara kalian, mereka pasti akan membawa nilai-nilai Barat bersama mereka," tegasnya.***



