POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Ada yang menarik saat safari budaya berlangsung, seorang bocah yatim berusia belasan tahun ditengah-tengah puluhan ribu penonton nekad bentangkan poster ‘ Pa Dedi tolong nenek saya, lagi sakit di rawat karena tumor’.
Dedi Mulyadi yang tengah berada diatas panggung langsung merespon bocah belasan tahun tersebut, meminta agar anak itu naik ke atas panggung untuk menjelaskan neneknya yang sakit tumor.
Kemudian Dedi Mulyadi bertanya kepada anak tersebut, prihal penyakit tumor neneknya yang tengah di rawat di rumah sakit. Anak itu diketahui bernama Kasohid yang masih sekolah kelas 1 SMP.
‘Ku naon nini maneh? (Kenapa nenek kamu)’ tanya Dedi Mulyadi, kepada Kasohid setelah berada diatas panggung, Sabtu (26/08).
‘Nini gering ku panyakit tumor, ayena ker di rawat di rumah sakit (Nenek sakit terkena penyakit tumor, saat ini tengah di rawat di rumah sakit)’ jawab, Kosahid.
Kemudian Dedi bertanya apakah Kosahid masih sekolah, anak lelaki itu menjawab bahwa dirinya masih sekolah kelas 1 SMP.
Baca Juga: Mahkamah Agung tak Berpihak kepada Dedi Mulyadi, Akhirnya Anne Ratna Mustika Resmi Janda
Menurut cerita Kosahid, dirinya bersama kakaknya yang bekerja sebagai kuli buruh, mengurus Neneknya tengah dirawat akibat penyakit tumor yang di idap neneknya tersebut.
Dedi Mulyadi tampak termenung sejenak setelah mendengar cerita Kosahid, karena merasa ada yang janggal, anak lelaki belasan tahun yang masih sekolah SMP merawat neneknya.
Menemukan kejanggalan itu, Dedi Mulyadi kemudian bertanya yang langsung menyentuh si anak tersebut hingga meneteskan air mata.
‘Ari indung maneh kamana? (Emangnya ibu kamu kemana),’ tanya Dedi Mulyadi.
Semua orangpun pasti bertanya, kenapa harus cucunya yang merawat neneknya tersebut, kemana orang tua dari Kasohid yang seharusnya merawat neneknya tersebut.
Sambil berlinangan air mata Kasohid menjawab pertanyaan Dedi Mulyadi, yang mengatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia.
‘Innalillahi, mulai poe iye biaya pendidikan maneh ku saya ditanggung, terus sakola nepi ka SMA ge kabeh biaya pendidikan ditanggung (Innalillahi, mulai hari ini dan seterusnya biaya pendidikan kamu saya yang tanggung, kamu harus terus sekolah sampai SMA semua biaya pendidikan saya yang tanggung),’ kata Dedi Mulyadi, sambil menitikkan air mata.
Kemudian Dedi Mulyadi memeluk bocah itu dengan penuh rasa cinta, sambil bercucuran air mata ditonton puluhan ribu warga Cirebon yang hadir di acara tersebut.
Dedi sampai menitikan air mata bukan tanpa alasan, karena disela-sela kesedihannya itu dirinya bercerita tentang nasib anak cikalnya yang ditinggalkan ibunya saat usia 3 tahun.
“Saya jadi teringat putra saya Aa Ula, yang ditinggal meninggal oleh ibunya saat berusia 3 tahun,” jelas Dedi Mulyadi sambil terisak.
Setelah itu, Dedi Mulyadi bertanya tentang proses biaya operasi Neneknya kepada kepala desa setempat.
Baca Juga: Kritik Keras Dedi Mulyadi 'Ngerakeun Bangsa Indonesia Teh, Ngurus Nu Gelo Wae Teu Bisa. Da Nu Ngurusna Garelo'
Kemudian dijawab bahwa kepala desa biaya pengobatan saat ini sudah ditanggung oleh BPJS.
Setelah mendengar penjelasn itu, Dedi Mulyadi mengatakan bahwa masyarakat tetap membutuhkan uang selama menunggu pasien di rumah sakit.
Terlebih jika pasien itu harus dirujuk dari Cirebon ke RS Hasan Sadikin di Bandung, biaya untuk menunggu yang sakit juga cukup besar.
“Makanya ke depan semua rumah sakit daerah itu kualitasnya harus setara dengan RS Hasan Sadikin,” ucapnya.
Menurut KDM, jika ada orang sakit biaya akan berlipat. Sebab banyak warga yang berhenti bekerja karena harus menunggu orang tercintanya di rumah sakit. Sehingga hal itu justru membuat kemiskinan baru.
“Sehingga saya saat jadi bupati (Purwakarta) punya kebijakan orang yang menunggu pasien miskin di rumah sakit mendapat uang Rp 100 ribu,” kata Kang Dedi.
Di akhir acara Kang Dedi Mulyadi pun menyerahkan uang total Rp 9 juta kepada Kasohid untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya menunggu neneknya di rumah sakit.
“Dan kamu saya angkat jadi anak saya, sekolahnya saya biayai sampai selesai SMA,” ucapnya.
“Saya (safari) seperti ini sudah 20 tahun lebih tak pernah berhenti. Banyak hal peristiwa yang saya temukan dalam setiap waktu,” terang Dedi Mulyadi.
Peristiwa yang terjadi itu hanya sebagian kecil dari ribuan bahkan jutaan peristiwa yang menimpa rakyat kurang mampu.
“Hari ini kita selesaikan satu masalah, dari sekian juta masalah rakyat minimal ada satu yang kita selesaikan dalam setiap hari,” pungkas KDM.
Keberanian bocah belasan tahun itu demi untuk mendapatkan biaya perawatan neneknya patut diacungi jempol, karena rasa cinta dan kasih sayangnya kepada neneknya dirinya nekad melakukan hal itu.
Yang pada akhirnya berbuah manis penuh dengan kebahagian, selain mendapatkan biaya perawatan neneknya, karena rasa cinta dan kasih sayangnya yang tulus, dirinyapun mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Dedi Mulyadi menjadi anak angkatnya.
Siapa yang menyangka, ketulusan bocah belasan tahun dalam merawat neneknya itu melahirkan ketulusan lainnya, padahal dirinya dan Dedi Mulyadi tidak saling kenal.***




