POJOKSATU.ID - Sejumlah fakta baru terkait mahasiswa UMY Redho Tri Agustian korban mutilasi Sleman, satu per satu terungkap.

Sebelumnya, beredar spekulasi liar motif mutilasi Redho Tri Agustian adalah kehidupan LGBT.

Hal itu lantaran polisi menyebut Redho Tri Agustian melakukan aktivitas tidak wajar dengan kedua pelaku, Waliyin dan RD.

Baca Juga: Turnamen Edy Rahmayadi Cup 2023, Persiapan Terakhir PSMS Sebelum Berlaga di Liga 2 Musim Ini

Akan tetapi spekulasi tersebut dibantah keras pihak keluarga, melalui pengacaranya, King Faisal Sulaiman.

King mengungkap, pihaknya telah melakukan investigasi dengan melakukan wawancara dengan orang-orang dekat Redho.

Salah satu informasi yang didapat bahwa Redho diduga kuat merupakan kontributor freelance salah satu radio lokal di Pangkalpinang.

Baca Juga: Tips Belajar Akuntansi Online untuk Pemula, Ternyata Mudah Banget

Kepada radio tersebut, korban disebut diminta menyuplai berita tentang aktivitas kelompok LGBT di Jogjakarta.

King mengutarakan, informasi itu didapat berdasarkan interview sejumlah saksi yang cukup dekat dengan Redho.

"Dia diminta menjadi kontributor untuk berita mengenai kelompok LGBT di Jogja dan meneliti aktivitas mereka," ungkap King, dikutip Pojoksatu.id dari JawaPos.com, Kamis 27 Juli 2023.

Baca Juga: Selain Alshad Ahmad, 7 Publik Figur dan Seleb Tanah Air ini Juga Punya Peliharaan Satwa Liar

Hal itu pula lah yang akhirnya membuat Redho memutuskan mendalami kehidupan komunitas LGBT.

"Kuat dugaan karena dia pernah ditawari kontributor freelance salah satu radio lokal di Pangkalpinang untuk menyuplai informasi atau berita mengenai dinamika komunitas atau kelompok LGBT di Jogja," sebut King.

Dari setiap artikel yang dibuat dan dikirmkan, King menyebut Redho mendapat imbalan dalma betuk fee.

Baca Juga: The Daddies Bungkam Duo Korea, Lolos 8 Besar Japan Open 2023

Berdasarkan informasi yang didapat, fee yang didapat Redho itu berkisar antara Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per artikel berita.

"Soal fee per berita masih kami dalami, artinya belum bisa kami simpulkan," kata dia.

Akan tetapi pihaknya sampai saat ini masih terus melakukan pelacakan dan pendalaman untuk mengetahui kebenaran informasi tersebut.

Baca Juga: Penyanyi Legendaris Sinead O'Connor Meninggal Dunia, Selama Ini Berjuang Melawan Mental Illness

Termasuk dengan bekerja sama dengan keluarga Redho.

"Kakak korban juga dalam proses mendalami. Kami minta juga lacak rekening koran korban apakah ada transfer. Ini menjadi investigasi kami dan bisa menjadi bukti petunjuk baru," papar dia.

Temuan ini, kata King, juga segaris lurus dengan fakta yang kemukakan pihak UMY.

Baca Juga: Cara Update Aplikasi Instagram, Mulai Dari Otomatis, Manual, iOS, Hingga Android

Disebutkan bahwa mahasiswa UMY itu tengah melakukan penelitian, juga tentang perilaku menyimpang kelompok LGBT di Yogyakarta.

Penelitian tentang kelompok LGBT itu, lanjut King, juga sudah dikonfirmasi UMY.

Akan tetapi ia menyatakan bahwa penerima beasiswa penelitian itu bukan hanya dari UMY saja, melainkan dari seluruh Indonesia.

Baca Juga: Ternyata Redho Tri Agustian Mahasiswa UMY Memang harus Masuk Kelompok LGBT

"Mungkin topik dari riset yang diajukan Redho berkaitan dengan dunia komunitas menyimpang atau LGBT. Kemudian terpilih dan mendapatkan dana hibah penelitian," ujarnya.

Diduga, momen beasiswa penelitian dan tawaran jadi kontributor radio itu didapat Redho dalam rentang waktu yang hampir bersamaan.

"Menariknya, ada tawaran dari radio, sehingga ada titik relasi. Artinya Redho juga tertarik dengan isu komunitas LGBT dan kebetulan juga mendapatkan tugas penelitian," katanya.

Baca Juga: Penjelasan Densus 88 Polisi Tembak Polisi di Cikeas Bogor, Tas Dibuka lalu Dor!

Hal itu pula yang disebut King diduga membuat Redho memutuskan masuk ke kelompok LGBT.

Karena penelitian yang dilakukan itu juga mengharuskan Redho Tri Agustian mendapatkan data primer.

Selain itu, Redho juga harus berinteraksi dan mewawancarai orang-orang yang ada di dalam kelompok LGBT itu.

Baca Juga: Tribrata Putra Sambo Akpol, Momen Lulus SMA Taruna Nusantara Lebih Menyayat Hati

"Hal ini kurang lebih sama atau saling terkait. Dalam kapasitas dia sebagai kontributor freelance radio lokal di Pangkalpinang yang mengharuskan dia terjun langsung di komunitas menyimpang untuk mendapatkan berita yang berkaitan," beber King.

Dari investigasi itu pula King mengaku mendapat benang merah.

Yakni dana hibah penelitian dan tawaran jadi kontributor freelance radio lokal Pangkalpinang.

Baca Juga: Panen Kritikan, Alshad Ahmad Akhirnya Beberkan Penyebab Harimau Peliharaannya 'Cenora' Mati

Apalagi keduanya juga sama-sama membahas soal perilaku menyimpang LBGT di Jogjakarta.***