POJOKSATU.id, KARAWANG - Lukas Kastaryo, seorang tokoh pejuang yang menjadi incaran tentara Belanda selama Pembantaian Rawagede pada tahun 1947. Dalam tragedi itu, ia memegang peran sebagai Komandan Kompi dari Batalyon Tajimalela Divisi Siliwangi.
Berkat kecerdikan dan kecermatannya, Lukas berhasil mengalahkan banyak tentara Belanda atau KNIL dengan berbagai taktik. Karena aksinya itu, pasukan militer Belanda yang bertugas di sekitar Karawang-Bekasi menyebut Lukas sebagai Begundal Karawang.
Lahir di Magetan, Jawa Timur, pada 20 Oktober 1920, Lukas terjun ke dunia militer sejak usia muda. Meskipun memiliki tubuh kecil, kecerdikan Lukas membuat Belanda kewalahan. Pada masa pendudukan Jepang, Lukas bergabung dengan pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Di PETA, ia menjabat sebagai komandan regu setara dengan sersan atau disebut budancho.
Lukas juga pernah menjadi shodancho (komandan peleton) di Pacitan, Jawa Timur. Setelah proklamasi kemerdekaan, Lukas ditempatkan di Brigade III/Kian Santang, Purwakarta, yang dipimpin oleh Letkol Sidik Brotoatmodjo. Kemudian, ia diangkat menjadi Komandan Kompi Batalyon I Sudarsono/Kompi Siliwangi atau yang dikenal sebagai Kompi Siliwangi Karawang-Bekasi.
Baca Juga: Kisah Presiden Soekarno Hidup Melarat Tak Ada Uang, Piyama Saja Pernah Dibelikan Duta Besar
Sebagai komandan kompi, Lukas dikenal sebagai pejuang berani yang memiliki banyak taktik untuk mengalahkan musuhnya, terutama Belanda. Salah satu taktiknya adalah dengan memakai seragam pasukan Belanda untuk membunuh mereka secara tiba-tiba. Ia juga pernah membajak rangkaian kereta yang mengangkut persenjataan. Kecepatannya membuatnya sering lolos dari sergapan Belanda.
Karawang menjadi basis perjuangan Republik selama perang kemerdekaan. Pertempuran sengit terjadi di Karawang-Bekasi dari tahun 1945 hingga 1947. Lukas berhasil menyergap para prajurit Belanda dan menghabisi banyak nyawa dengan cara menusuk. Tidak menyukai aksi Lukas, Divisi I KNIL mengirim pasukan ke Rawagede yang dipimpin oleh Mayor Alphonse Jean Henri Wijnen alias Fons.
Tujuan Fons adalah menangkap Lukas Kustaryo yang sedang bergerilya di sekitar Rawagede. Fons bahkan menawarkan hadiah sebesar 10.000 gulden kepada siapa pun yang berhasil menemukan Lukas. Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Akibatnya, militer Belanda memutuskan untuk mengumpulkan dan membunuh laki-laki di Rawagede yang dianggap pro-Republik.
Baca Juga: Kisah Presiden Soekarno dan Majalah Playboy Buatan Amerika
Tragedi Rawagede pada tanggal 9 Desember 1947 menelan korban sebanyak 413 orang. Lukas merasa sedih karena banyak penduduk sipil yang dibunuh oleh tentara Belanda yang kesulitan menangkapnya. Selama bergerilya di sekitar Karawang-Cikampek, Lukas juga kehilangan banyak anggota kompinya. Jumlah anggota kompi Lukas yang semula ratusan orang tinggal sekitar 40 orang.
Hingga Belanda meninggalkan Indonesia, Lukas tetap terhindar dari pengejaran mereka. Kabarnya, saat Belanda mencari Lukas di Rawagede, ia bersembunyi di Desa Pasirawi yang hanya berjarak dua kilometer dari Rawagede selama satu minggu. Berkat keberanian, kecerdikan, dan kegesitannya, pasukan militer Belanda yang bertugas di sekitar Karawang-Bekasi menyebut Lukas sebagai Begundal Karawang.
Setelah berhasil lolos dari kejaran Belanda, Lukas melanjutkan karier militernya. Batalion Lukas dikirim ke Maluku untuk melawan Angkatan Perang Republik Maluku Selatan (RMS). Pasukannya berada di Maluku saat Letkol Slamet Rijadi tewas pada November 1950.
Pada tahun yang sama, Lukas juga terjun sebagai politikus dan menjadi anggota parlemen mewakili Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) yang didirikan oleh AH Nasution dan rekan-rekannya. Pangkat terakhir yang dipegang Lukas adalah Brigadir Jenderal. Ia tinggal di Cipanas, Jawa Barat, bersama keluarganya. Lukas Kustaryo meninggal dunia pada 8 Juni 1997 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cipanas. ***




