POJOKSATU.id - Mantan Duta Besar Indonesia untuk Polandia, Peter Frans Gontha, memicu perbincangan hangat setelah menyuarakan kekecewaannya mengenai isu naturalisasi pemain di Timnas Indonesia. Melalui akun Instagram pribadinya, @petergontha, Peter mengungkapkan pandangannya bahwa kebijakan ini dapat "mencoreng martabat bangsa."
Dalam salah satu unggahannya, ia menulis, "Saya sungguh galau, saya akan memposting status ini meski berisiko membuat pengikut saya marah. Tapi, demi menjaga martabat bangsa saya, saya harus melakukannya."
Peter, yang dikenal dengan julukan "Donald Trump Indonesia," merasa prihatin dengan langkah PSSI yang dinilainya terlalu banyak mengandalkan pemain naturalisasi.
Melalui delapan poin di unggahannya, ia menyoroti adanya sembilan pemain naturalisasi dalam skuad Timnas Indonesia, yang membuatnya merasa malu. "Apakah Anda tidak malu melihat PSSI dengan sembilan pemain yang dinaturalisasi? Saya malu," tulisnya dalam salah satu poin tersebut.
Peter menganggap naturalisasi bukanlah solusi jangka panjang. Ia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa beberapa pemain naturalisasi mungkin memiliki kewarganegaraan ganda, dan setelah tidak lagi bermain untuk Timnas Indonesia, mereka kemungkinan akan kembali ke negara asal. Hal ini, menurutnya, akan menjadi masalah bagi masa depan sepak bola Indonesia.
Peter Frans Gontha, kelahiran Semarang pada 4 Mei 1948, dikenal luas sebagai pengusaha sukses dan pendiri sejumlah perusahaan besar seperti Grand Hyatt Jakarta, InterContinental Bali Resort, serta Bimantara Group.
Baca Juga: Persib Bandung Bungkam PSIS, Jadi Tim Paling Produktif di Liga 1
Selain itu, ia juga dikenal sebagai penggagas Java Jazz Festival. Di usianya yang ke-76 tahun, Peter masih aktif dalam dunia bisnis, dan sempat menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Polandia dari 2014 hingga 2018 di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. J
ulukan "Donald Trump Indonesia" didapatnya karena perannya sebagai bos dalam acara "The Apprentice Indonesia," sementara keterlibatannya dalam media di Indonesia membuatnya disebut "Rupert Murdoch Muda Indonesia."
Terkait itu, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, memberikan respons tegas, meski tidak langsung menyebut nama Peter. Erick meminta agar dedikasi dan perjuangan Timnas Indonesia tidak dipertanyakan.
“Jangan pernah pertanyakan dedikasi dan perjuangan kami untuk membawa sepak bola Indonesia ke pentas dunia,” tulis Erick di media sosialnya, yang turut menyertakan cuplikan perjuangan Timnas di kualifikasi Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Kalah di Final Hong Kong Open 2024, Putri KW Terima Uang Hadiah Terbesar Sepanjang Karirnya
Kontroversi terkait kewarganegaraan ganda pemain naturalisasi semakin memanas setelah Timnas Indonesia berhasil menahan imbang Australia.
Nama-nama seperti Jay Idzes dan Maarten Paes disebut-sebut memiliki dua paspor, yaitu Indonesia dan Belanda. Namun, kabar ini sejauh ini hanya beredar sebagai spekulasi publik di media sosial tanpa ada konfirmasi resmi dari pihak terkait.
Baca Juga: Rocky Gerung: Sepak Bola Itu Kebanggaan Nasional, Bukan Hasil Naturalisasi
Arya Sinulingga, anggota Komite Eksekutif PSSI, dengan tegas membantah adanya kewarganegaraan ganda pada pemain naturalisasi. Ia menegaskan bahwa setiap pemain yang dinaturalisasi menggunakan paspor Indonesia saat keluar masuk wilayah Tanah Air. “Mereka pastinya memakai paspor Indonesia, dan diharapkan tak ada kontroversi lagi,” ujar Arya.
Meski demikian, isu ini belum juga mereda dan terus menjadi perbincangan hangat di media sosial, khususnya di platform X. ***

