POJOKSATU.ID - Bagi pecinta sepak bola Tanah Air era 90-an tentu sangat lazim mendengar nama Pelita Jaya. Klub yang sejak 2016 lalu berubah nama menjadi Madura United.

Pelita Jaya adalah klub kesohor Indonesia pada era Galatama dan cukup disegani di kompetisi antarklub level Asia.

Sementara jelamaannya kini, Madura United termasuk klub papan atas Liga 1. Menariknya, klub berjuluk Sape Kerap ini sering mencuri perhatian di awal musim namun akhirnya gagal juara.

Baca Juga: Hasil Australian Open 2023: Prifad Ikuti Jejak Ana Tiwi, Usai Bungkam Juara Taiwan Open

Kiprah Madura United sejauh ini memang tak sebanding dengan Pelita Jaya, klub yang merupakan cikal bakal Sape Kerap.

Pelita Jaya, yang kepemilikan saham terakhirnya dikuasai oleh Ari D. Sutedi dengan nama Pelita Persipasi Bandung Raya dijual ke Achsanul Qosasi.

Nama terakhir memboyong klubnya itu bermarkas di Stadion Gelora Bangkalan dan Stadion Gelora Ratu Pamelingan Pamekasan.

Baca Juga: Hasil Australian Open 2023: Mulus, Fajri Hanya Butuh 23 Menit Singkirkan Wakil Selandia Baru

Sejak berganti nama menjadi Madura United pada 10 Januari 2016, nama Pelita Jaya pun mulai terlupakan.

Padahal, Pelita Jaya yang berdiri pada 1986 adalah klub ternama yang mewarnai perjalanan kompetisi sepak bola Indonesia.

Kehadiran pertama kali mereka di era Galatama langsung menarik perhatian publik dengan mengalahkan juara musim sebelumnya, Krama Yudha Tiga Berlian (KTB).

Baca Juga: Jadwal Bola Hari Ini 1 Agustus: PSG vs Inter, China vs Inggris, Kualifikasi Liga Champions

Di Stadion Menteng Jakarta Pusat, 31 Agustus 1986, tim yang diasuh oleh Rahim Soekasah, Bertje Matulapelwa, dan Benny Dollo menekuk KTB 1-0.

Gol tunggal kemenangan Pelita Jaya dicetak oleh Bambang Nurdiansyah.

Pada pengujung kompetisi, Pelita Jaya akhirnya bertengger di peringkat dua setelah kalah 2-4 dari KTB pada partai final.

Pelita Jaya mengulang raihan mereka pada musim berikutnya. Pada final musim 1987-1988, Pelita Jaya kalah 1-2 dari Niac Mitra.

Baca Juga: Profil Fadillah Arbi Aditama, Juara JuniorGP Barcelona 2023: Orangtua, Agama dan Akun Sosmed

Dua musim berikutnya, tim yang saat itu dimodali pengusaha Nirwan Bakrie berturut-turut meraih trofi juara Galatama musim 1988-1989 dan 1990.

Pelita Jaya menutup era kejayaan mereka di kompetisi Galatama dengan menjadi juara pada musim 1993-1994.

Sejarah mencatat, Pelita Jaya menjadi klub yang paling sering menembus final Galatama yakni lima kali dengan hasil tiga kali jadi juara.

Pada ajang penting lainnya yakni Piala Utama yang mempertemukan jagoan Galatama dan Perserikatan, Pelita Jaya pernah meraih trofi juara pada 1992.

Baca Juga: Perjuangan Lionel Sinathrya, Demi Seleksi Timnas Indonesia U17, Rela Tinggalkan Prancis

Di level internasional, nama Pelita Jaya pun menggema di Piala Champions Asia.

Pada kompetisi tertinggi kawasan Asia ini, Pelita Jaya yang ditangani Benny Dollo berhasil menembus semifinal pada musim 1991.

Bintang Pelita Jaya saat itu, Bambang Nurdiansyah mencuri perhatian sebagai top skor dengan lima gol.

Era kejayaan Pelita Jaya saat itu tidak lepas dari perpaduan pemain muda dan senior.

Baca Juga: Jadwal Australian Open 2023 Hari Ini 1 Agustus: Fajri, Prifad dan The Daddies Main

Seperti Listianto Raharjo, I Made Pasek Wijaya, Bonggo Pribadi, Herrie Setiawan, Tias Tono Taufik, Ely Idris, Maman Suryaman, Rully Nere, Alexander Saununu, Noah Meriem plus Bambang Nurdianyah.

Nama-nama familiar ini juga menjadi pemain regular di Timnas Indonesia saat itu.

Pelita Jaya menjadi klub pertama Indonesia yang memiliki fasilitas dan sarana pendukung layaknya klub profesional di Eropa.

Selain menyewa secara jangka panjang Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sebagai markas, mereka juga memiliki kompleks latihan di Sawangan dengan fasilitas lengkap.

Baca Juga: 15 Pemain Termahal Bursa Transfer Musim Panas 2023, Duo Anyar Arsenal Masuk 3 Besar

Di antaranya dua lapangan bola, kolam renang, mes pemain, ruang fitnes dan bioskop mini.

Pada 1994, Pelita Jaya termasuk klub yang memotori penyatuan kompetisi Perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia.

Status sebagai juara terakhir Galatama jadi modal Pelita Jaya berkiprah di kasta tertinggi kompetisi tanah air.

Pelita Jaya pun menyemarakkan kompetisi dengan mendatangkan Roger Milla yang baru pensiun dari Timnas Kamerun.

Baca Juga: 3 Negara Penyumbang Pemain Asing Terbanyak di Liga 1, Negara Asia Tenggara Ini Hanya Kalah dari Brasil

Meski usianya sudah kepala empat, aksi Milla jadi tontonan menghibur. Dalam semusim bersama Pelita Jaya, Milla mencetak 23 gol dalam 23 partai.

Sayang, Pelita Jaya yang begitu dominan pada penyisihan wilayah Barat dengan menjadi juara, tersingkir di babak 8 Besar.

Seperti diketahui, trofi juara Liga Indonesia musim perdana diraih oleh Persib Bandung yang mengalahkan Petrokimia Putera 1-0 di final yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta.

Status sebagai tim bermaterikan pemain bintang tetap disandang Pelita Jaya pada musim berikutnya. Tapi, mereka tetap gagal bersinar.

Baca Juga: 4 Daerah di Indonesia Paling Sering Lahirkan Pemain Top, Papua Pasti Masuk

Pada musim 1997/1998, Pelita Jaya mencoba memutus rekor minor mereka. Di bawah kendali Nurdin Halid, pengusaha asal Makassar, Pelita menjelma jadi tim menakutkan.

Materi pemain berkelas di Liga Indonesia saat itu, Maboang Kessack, Carlos de Mello dan Dejan Gluscevic ada dalam tim.

Di sektor pemain lokal, jebolan PSSI Primavera yang dimotori Kurniawan Dwi Yulianto, striker muda terbaik Indonesia saat itu turut bergabung.

Pelita Jaya masih mempertahankan sejumlah pemain era Galatama sebagai mentor pemain muda, seperti Ansyari Lubis, I Made Pasek Wijaya, dan Listianto Raharjo.

Baca Juga: Klasemen Liga 1 Usai Pekan Kelima: Peringkat 1 dan 10 Hanya Berjarak 3 Poin

Sayang, kompetisi harus terhenti di tengah jalan karena kondisi politik dan ekonomi Indonesia tidak kondusif.

Penampilan Pelita yang tengah menanjak dengan Kurniawan menjadi top skor sementara gagal berujung gelar.

Setelah itu, Pelita Jaya mengalami periode sulit. Puncaknya, sejak 2002, mereka menjadi tim musafir sesuai keinginan pemodal yang ingin membiayai operasional klub.

Nama klub pun disesuaikan dengan nama kota tempat mereka bermarkas. Termasuk pernah bermarkas di Purwakarta dan Karawang, Jawa Barat.

Baca Juga: 10 Keanehan Film Docter Strange 2 yang Telah Rilis Sejak Tahun Lalu, Tetiba Ada Cerita Wanda Punya Anak

Mulai dari Pelita Solo (2000-2002), Pelita Krakatau Steel Cilegon (2002-2006), Pelita Jaya Purwakarta (2006-2007), Pelita Jawa Barat (2008-2009), Pelita Jaya Karawang (2010-2012).

Kemudian Pelita Bandung Raya (2012-2015), Pelita Persipasi Bandung Raya (2015) dan akhirnya berganti nama menjadi Madura United pada 2016 setelah saham mayoritasnya dibeli oleh Achsanul Qosasi.

Ketika berganti nama menjadi Pelita Bandung Raya (PBR), mereka sempat menarik perhatian publik pada Liga Super Indonesia 1994. PBR yang ditangani Dejan Antonic berhasil menembus semifinal.

Namun Bambang Pamungkas cum suis gagal ke final usai takluk 0-2 dari Persipura Jayapura. Pada musim ini, Persib Bandung yang keluar sebagai juara setelah menekuk Persipura lewat adu penalti.***