POJOKSATU.id, BOGOR - Wali Kota Bogor Bima Arya minta maaf terkait polemik resolusi jihad tidak dibacakan dalam upacara Hari Santri Kota Bogor yang dilaksanakan pada Minggu, Minggu, 22 Oktober 2023.
Permintaan maaf Bima Arya disampaikan saat melakukan kunjungan silaturrahmi ke Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor pada Kamis, 26 Oktober 2023.
Bima Arya datang ke Kantor PCNU Kota Bogor bersama jajarannya. Ia diterima oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Bogor Edi Nurokhman, Syuriyah PCNU, KH Khotimi Bahri, dan sejumlah pengurus PCNU Kota Bogor.
Baca Juga: Reshuffle Kabinet Berhembus, Orang Dekat Megawati Ini Disebut Bakal Diganti Presiden Jokowi
"Bima Arya datang bersama bawahannya menyampaikan klarifikasi dan minta maaf karena resolusi jihad tak dibacakan saat apel hari santri 2023 di Kota Bogor," ujar Edi Nurokhman kepada Pojoksatu.id, Kamis 26 Oktober 2023.
Menurut Edi, dalam pertemuan tersebut Bima Arya menyampaikan bahwa bukan dia yang melarang pembacaan resolusi jihad dibacakan, melainkan anak buahnya.
"Bima Arya ngaku sudah memarahi anak buahnya yang melarang pembacaan resolusi jihad. Bahkan, dia memperlihatkan pesan WhatsApp (WA) yang memarahi anak buahnya," terang Edi.
Baca Juga: Ternyata Ada Misi Khusus Jokowi di Balik Reshuffle Kabinet Geser Budi Gunawan, AHY jadi Mentan?
Ditambahkan Edi, Bima Arya juga meminta agar permasalahan tersebut tidak diperpanjang dan diselesaikan secara kekeluargaan.
Menanggapi permintaan tersebut, Edi menyatakan bahwa PCNU Kota Bogor menerima permintaan maaf Bima Arya dan tidak akan memperpanjang masalah tersebut.
"Buat PCNU sudah cukup dengan permintaan maaf. Apalagi dia dan anak buahnya datang langsung ke kantor PCNU. Kita anggap masalah ini selesai," kata Edi.
Baca Juga: Bocoran dari Istana soal Reshuffle Kabinet Besok Rabu, Jenderal Dudung, Budi Gunawan dan AHY?
Meskipun begitu, Edi meminta Pemkot Bogor belajar dari kesalahan. Ia mengingatkan masalah seperti itu tidak boleh terulang di masa yang akan datang.
Ia berharap Pemkot Bogor ke depan bisa membuka ruang komunikasi yang lebih intens dengan PCNU Kota Bogor.
"Bukan hanya masalah hari santri, peringatan hari besar keagamaan lainnya pun sebaiknya Pemkot berkomunikasi dengan PCNU agar kejadian serupa tidak terulang," katanya.
Selama ini, kata dia, PCNU tidak pernah diajak berduskusi terkait peringatan hari besar keagamaan, termasuk peringatan hari santri 2023.
"Kita sebatas diundang, tapi tidak pernah diajak diskusi maupun dimintai pendapat. Padahal, hari santri identik dengan NU," terang Edi.
"Tolong ke depan dengarkan kami. Masalah kemarin itu harus jadi pelajaran berharga. Jangan merasa paling pintar," tegas Edi. ***
