POJOKSATU.id - Pergerakan rupiah akhirnya menunjukkan tanda pemulihan pada Rabu, 6 Mei 2026.

Di tengah tekanan pasar global, mata uang Garuda mampu menguat tipis ke level Rp17.405 per dolar AS pada perdagangan siang hari.

Sejak pembukaan pasar, arah rupiah memang sudah cenderung positif.

Bahkan sempat terapresiasi cukup dalam ke posisi Rp17.350 per dolar AS, sebelum kemudian bergerak lebih stabil.

Baca Juga: Sinopsis Film Tumbal Proyek: Misteri Tumbal di Balik Pembangunan Jembatan, Teror dan Luka Keluarga

Kondisi ini berbanding terbalik dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang masih berada di zona merah.

Menariknya, penguatan rupiah juga didorong oleh melemahnya indeks dolar AS.

Indikator yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia itu turun ke level 98,234.

Nah, pelemahan dolar ini otomatis memberi ruang bagi rupiah untuk menguat.

Di balik pergerakan ini, ada faktor penting dari dalam negeri.

Baca Juga: Milangkala Tatar Sunda di Garut Pecah, Kirab Mahkota Binokasih Disambut Ribuan Warga

Pemerintah bersama otoritas keuangan baru saja menggelar rapat terbatas di Istana Merdeka yang membahas tekanan capital outflow di pasar keuangan.

"Dan tadi disepakati, dilaporkan ke Bapak Presiden, kesepakatan kerja sama antara BI dan Menteri Keuangan sehingga ke depan ini bisa dijaga terkait dengan capital outflow," ungkap Airlangga Hartarto.

Dari hasil pertemuan itu, Bank Indonesia langsung tancap gas menyiapkan tujuh langkah strategis.

"Kami melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden merestui dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan," ungkap Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Langkah yang diambil pun cukup agresif. Intervensi di pasar valuta asing diperkuat, baik di dalam negeri maupun di pasar offshore.

BI juga memastikan cadangan devisa tetap siap digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Baca Juga: Sehari Usai Kejadian Ternyata Pemilik Warung Madura Sudah Damai dengan Anggota TNI AD

Di sisi lain, upaya menarik aliran modal masuk terus didorong.

Instrumen SRBI dimaksimalkan, sementara pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder sudah menembus Rp123,1 triliun sepanjang tahun ini.

Kebijakan tambahan juga diterapkan di sektor domestik.

Likuiditas perbankan dijaga tetap longgar, sementara pembelian dolar oleh individu kini dibatasi maksimal 50 ribu dolar AS per bulan, turun dari sebelumnya 100 ribu dolar AS.

Pengawasan pun diperketat. BI menggandeng OJK untuk memonitor aktivitas perbankan dan korporasi, terutama yang memiliki intensitas tinggi dalam pembelian dolar.

Baca Juga: Dari Lab ke Ladang, Riset UPI Ini Bikin Tanaman Lebih Subur, Pupuk Kimia Bisa Ditekan

Bukan hanya itu, pemerintah juga menyiapkan langkah jangka menengah.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan rencana penerbitan Panda Bonds di China dengan denominasi yuan.

"Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bond dalam bentuk Panda Bond di China, dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi," ujarnya.

Dengan imbal hasil sekitar 2,3%, instrumen ini dinilai lebih kompetitif dibandingkan obligasi domestik tenor panjang.

Strategi ini sekaligus membuka peluang diversifikasi sumber pembiayaan dan valuta asing.

"Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi ke depan. Jadi prospek kita bagus, teman-teman semua nggak usah takut. Tadi Pak Presiden juga bilang sama saya suruh sampaikan pesan bahwa uang saya cukup, duitnya banyak, jadi Anda enggak usah takut," katanya.

Di tengah ketidakpastian global, penguatan kecil ini terasa berarti.

Bukan sekadar angka di layar, tapi sinyal bahwa upaya menjaga stabilitas terus berjalan—pelan, tapi pasti, sambil membawa harapan agar rupiah tetap bertahan di tengah gelombang.***