POJOKSATU.ID, Perang Israel dan Palestina lebih khusus lagi pasukan HAMAS menjadi isu yang sangat tajam dalam sebulan terakhir ini, banyak pihak yang juga diuntungkan dari kondisi perang ini, lepas dari pembahasan keagamaan, bahwa setidaknya beberapa Negara bisa menunjukkan tajinya sebagai bentuk perlawanan kepada AS dan Israel ataupun Negara-negara sekutu AS dan Israel.

Tak luput dari perhatian Negara Indonesia yang juga ikut mengecam atas kekejaman genosida Israel terhadap warga Gaza di mana korban saat ini sudah memasuki angka 9.000 jiwa lebih 3.000 lebih di antarannya adalah anak anak entah itu yang meninggal maupun yang luka-luka dampak dari serangan rudal dan roket Israel.

Baca Juga: Prediksi Skor Tottenham vs Chelsea Liga Inggris 7 November: Berpotensi Imbang

Indonesia sebagai Negara yang tidak pernah lupa untuk bersuara dengan kecaman dan juga kutukkan, juga mengambil langkah tegas entah itu langsung dari pihak pemerintah sendiri atau dari luar pemerintah.

Salah satu cara untuk membantu warga Palestina adalah dengan maksud mengurangi dampak pasok senjata akibat keuntungan perdanganngan yang di sinyalir datang dari perusahaan-perusahaan yang bekerja sama atau yang dimiliki langsung oleh Israel.

Baca Juga: Bobby Nasution Minta Izin ke PDIP Dukung Kakak Iparnya Gibran, Ini Jawaban Dewan Kehormatan PDIP

Jika pihak pemerintah cerdas melihat ini sebagai peluang besar dalam dunia perekonomian Nasional maka waktunya bagi UMKM benar-benar naik kelas dengan cara menumbuktikan semangat Nasionalisme serta meng 1000 persenkan bukti bangga dengan produk-produk Indonesia dengan menaiikkan rasa cinta, kepedulian, kepemilikkan dan keseriusan menaikkan daya beli masyarakat kita sendiri, terhadap produk-produk lokal yang mungkin selama ini hanya di jadikan sebatas data bahwa UMKM sebagai penyumbang angka PDB Nasional sebesar 60,5% yang menunjukkan bahawa UMKM Indonesia sangat potensial untuk dikembangkan untuk berkontribusi besar bagi perekonomian Nasional Indonesia.

Faktanya bahwa, Nilai impor Israel ke Indonesia tahun 2020 sebesar 56,5 juta dolar AS. Sedangkan tahunn 2021 senilai 26, 5 Juta dolar AS dan 2022 mencapai 47,8 Juta dolar AS.

Angka ini membuat kita ragu sebagai UMKM apakah Negara peduli terhadap nasib UMKM? Ribuan pelatihan, ribuan bantuan yang selama ini dilakasanakan juga hanya sebatas menghabiskan anggaran dan juga lagi lagi kesimpulannya untuk menjadi besar di kembalikan kepada motivasi pelaku UMKM untuk mau menjadi besar dengan dalih bahwa pelatihan, motivasi serta yang lainnya itu 5% saja dari keberhasilan usaha yang dicapai, 95%nya berusaha sendiri.

Baca Juga: Jokowi Hadiri Puncak Perayaan HUT ke-59 Partai Golkar Tak Lama Setelah Prabowo Datang

Maka, yang seharusnya seruan memboikot produk Israel menjadi keuntungan Lokal UMKM untuk bersaing, justru itu hanya sebatas seruan saja, peluang bagi lokal UMKM untuk besar dan bisa merdeka terjual dalam negerinya sendiri ataupun terbang menyebarang ke pasar ASEAN hanya sebatas mimpi saja.

Jika pemerintah dan seluruh sektor terkait yang menangani hal ini hanya menjadikan UMKM sebagai data untuk meraup keuntungan popularitas individu, lembaga, dan tujuan kecil lainnya.

Namun, kita tidak boleh berkecil hati sekalipun kita tidak berdaya untuk bersaing dengan produk produk besar itu. Sekarang mari kita hidupkan rovolusi lokal, sebagaimana yang diseruhkan oleh seorang Youtuber dalam Channel Youtube Raymond Chin.

Saya pikir itu solusinya untuk membantu membuka mata pemerintah Indonesia bahwa Lokal Produk UMKM itu ada.

Mardin Ali Hilman, (Eks. Sekertaris Asosiasi UMKM Kota Kendari)