POJOKSATU.id, Kota Bandung - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan pertemuan dengan duta besar Inggris untuk penyerahan secara resmi laporan Climate Investment Opportunities Diagnostic, yang disusun International Finance Corporation (IFC) melalui program APEX Green Cities, cukup menguntungkan bagi kota Bandung.
Rencananya perwakilan dari Inggris tersebut akan mengubah air sungai di kota Bandung menjadi air minum.
"Dari pertemuan ini kita harapkan ada penelitian di sini. Saya sudah lihat pemanfaatan air baku sungai di Kota Bandung. Kebayang kita mengambil air minum dari Cikapundung? Masih serem ya, itu. Tapi harusnya bisa, makanya ini kita dibantu oleh Pemerintah Inggris dan juga oleh International Finance Corporation, ini salah satu anak perusahaan dari World Bank yang melakukan penelitian-penelitian. Ada beberapa penelitian yang dahulu sudah dilakukan," ujar Farhan di balai kota, Jumat (28/8/2026).
Baca Juga: TNI Beri Penjelasan Pesawat Tempur F-16 Bolak-balik di Langit Jakarta Usai Demo 27 Agustus
Kata Farhan, sejak Pemkot melakukan penelitian tentang sport tourism center di Gedebage, duta inggris tersebut telah menyerahkan hasil penelitiannya mengenai investasi di bidang lingkungan, dari situ lah ada beberapa peluang investasi.
Diantaranya pengelolaan sampah, peningkatan pengelolaan air bersih, dan peningkatan investasi dalam peningkatan kualitas udara.
"Nah, tiga peluang ini memang sangat diperlukan oleh Kota Bandung karena kita mempunyai ambisi, dalam tanda kutip, bahwa pada tahun 2035 Kota Bandung akan bisa mengurangi emisi gas buang atau efek rumah kaca sampai 22 persen. Nah, itu sebabnya kerja sama ini menjadi sangat penting," ujarnya.
Baca Juga: Islamic Relief Indonesia Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Manggarai, 500 Keluarga Jadi Sasaran
Lanjut Farhan penelitian ini sudah selesai, dan. anti Bapperida berdasarkan penelitian itu akan mengusulkan beberapa kebijakan yang akan disesuaikan dengan RPJMD dan juga akan disesuaikan dengan RPJPD.
Masih kata Farha, Bandung sampai sekarang masih dalam tanda kutip eksperimen.
"Karena, kalau yang punya sendiri, kita baru bisa investasi di sarana air bersih, tapi itu kan masih menggunakan air tanah. Sedangkan sumber air baku dari sungai kita belum bisa memanfaatkan sama sekali. Air ada, kalau musim hujan, buktina banjir," jelasnya mengulang.
Baca Juga: Dandim Karawang Ajak LSM dan Ormas Jaga Kondusivitas Daerah
Mengenai sampah sendiri kata dia, sampai sekarang investasi masih belum ada yang jalan. Baru di Legok Nangka yang paling maju sekarang. Sedang Sarimukti masih jauh dari angan-angan namun sudah memulai.
"Sementara itu yang kita lakukan sekarang bukan investasi terhadap pengelolaan sampah. Kita lebih banyak melakukan penanganan sampah saja, yang bentuknya juga lebih ke reaktif sama responsif, bukan perencanaan jangka panjang. Nah, diharapkan dari penelitian ini kita bisa mendapatkan berbagai macam ide, tidak hanya PSEL yang jumlahnya besar di hilir, tetapi juga pengelolaan sampah di hulu yang sifatnya pengelolaan sampah per wilayah dalam skala-skala kecil sampai menengah," harapnya.
Lanjutnya untuk teknologi dikerjasamakan dengan Kemenristek dan Danantara adalah peningkatan kapasitas pengelolaan sampah maggot yang di Gedebage menjadi pengelolaan sampah SRF diakui lebih canggih dari RDF.
Baca Juga: Update Loker BUMN Agustus 2026: ANTAM, ASDP hingga Perbankan Buka Peluang Kerja
Tegas Farhan, hasil riset ini nanti akan diturunkan oleh Bapperida menjadi berbagai panduan kebijakan. Panduan kebijakan untuk Kota Bandung. Jadi untuk perencanaan tahun 2028 dan juga pelaksanaan tahun 2027, sehingga Pemkot Bandung bisa ada patokan-patokan yang bisa dijadikan sebagai alat ukur parameter.
"Yang berhasil indeksnya berapa, yang kurang berhasil indeksnya berapa. Itulah kira-kira. Unsur-unsur ilmiahnya," tandasnya.***



