POJOKSATU.id, Kota Bandung – Jumlah penyakit Tuberkolosis (TBC) di Kota Bandung terus meningkat.

Kota Bandung menjadi kota kedua di Provinsi Jawa Barat terbanyak dalam penderita penyakit TBC atau sekitar 18.846.000 penderita TBC pada tahun 2025. Karenanya penyakit mudah menular ini menjadi perhatian khusus pemerintah.

“Terus terang tiap tahunnya kita meningkat. Maka kita adakan pertemuan ini. Jadi selama ini kita masih terkotak-kotak ya, tidak terkoordinasi untuk penanganan TB ini. Mudah-mudahan dengan upaya hari ini mengundang seluruh camat, kita bisa saling berkolaborasi antara kesehatan dengan kewilayahan, kita bersama-sama untuk mengatasi tuberculosis. Di Jawa Barat sendiri Bandung itu kedua terbanyak penderitaan TBC. Itu menjadi perhatian kami, pemerintah kota Bandung, harus ada upaya penanggulangan yang lebih, tidak biasa.” jelas Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Bandung Dadan Mulyana di balai kota, Kamis 19 Febuari 2026.

Data itu diperoleh dari seluruh pusat kesehatan di kota Bandung.

Dimana para penderita TBC datang dengan berbagai gejala dan kondisi bahkan ada tanpa gejala.

Kemudian oleh petugas Kesehatan dilakukan screening dan ternyata menderita TBC.

“Ada yang memang sudah bergejala terutama batuk lama lebih dari 2 minggu dia tidak sembuh-sembuh datang ke puskesmas kita screening TBC dan diketemukan dia positif atau mungkin dia datang dengan penyakit lain misalkan yang tidak khas misalkan dia ada demam,” paparnya.

Malahan ada beberapa pasien wanita tengah hamil, saat di screening TBC tanpa keluhan ternyata ditemukan positif.

“Tapi umumnya sih memang orang-orang yang bergejala dengan batuk lebih dari 2 minggu, kemudian ada penurunan berat badan dan keringat pada malam hari itu gejala khasnya ya. Kalau muncul gejala-gejala seperti itu, sebaiknya sih diperiksakan datang ke puskesmas kita screening TBC agar bisa segera dilakukan pengobatan,” imbuhnya.

Penyebaran penyakitnya sendiri diakui Dadan, merata di bebearap titik daerah padat penduduk namun ia tidak merinci daerah mana terbanyak penderita.

“Ini merata ada beberapa titik daerah-daerah padat penduduk, angkanya saya tidak hafal ya tapi kurang lebih di daerah Kiaracondong, Babakan Ciparay daerah padat, tapi angka tidak terlalu jauh merata lah,” ucapnya.

Disinggung soal pengobatan minimal 6 bulan, kata Dadan hal itu lah membuat penderita bosen sehingga belum 6 bulan sudah menghentikan pengobatan dan akibatnya obat yang diberikan jadi kurang dosisnya sehingga saat berobat Kembali dosis obat menjadi lebih keras.

“Ya pengobatan itu minimal minimal 6 bulan. Sebenarnya ada regimen yang baru tapi kita belum pakai, di Indonesia regimen baru itu 4 bulan, jadi kalau pengobatan TBC ini kita harus mengikuti panduan dari Kementerian Kesehatan. Panduannya kita masih menggunakan yang saat ini 6 bulan. Ke depannya yang 4 bulan mungkin saja, tergantung nanti dari Kementerian Kesehatan menggunakan regimen obat yang mana,” jelasnya seraya menegaskan penyakit TBC ini menular.

Untuk pencegahannya sendiri, Dadan menyarankan kalau misalkan sudah ada yang terdiagnosis yang kontak serumahnya itu harus diperiksa sehingga bisa segera diobati terlebih bila ternyata positif.

Dan kalau negatif bisa diberikan terapi pencegahan TB atau TPT (Terapi Pencegahan Tuberkulosis).

“Itu bisa diberikan untuk yang kontak erat, kontak serumah. Dan biar dia tidak melular, memang si pasiennya sendiri memang harus paham menyadari bahwa dia menderita tuberculosis,” tegasnya.

“Kemudian perilaku-perilakunya memang harus diperbaiki. Misalkan tidak meludah sembarangan. Etika batuk, jangan menutup dengan tangan tapi masuk ke dalam baju gitu dan tetap lebih baik ya pakai masker, insya allah akan mengurangi kemungkinan penularannya,” sarannya.

Namun demikian, penyakit menular ini kata Dadan masih bisa disembuhkan hanya butuh kesabaran dari para penderita, minimal 6 bulan pengobatan diminum setiap hari.

“Itu yang bikin bosan dan putus aja sehingga berhenti padahak harus dituntaskan 6 bulan. Karena kalau tidak tuntas menjadi kebal kumannya, nah kalau sampai terjadi resisten obat, seperti tadi saya sampaikan nanti obat yang diberikannya juga akan lebih grade-nya lebih tinggi dan lebih mahal pastinya.Jadi kita berupaya agar bisa diobati sedini mungkin sebelum jatuh dia ke resisten obat. Dan jelas ini dicover BPJS,” tegasnya mengakhiri.