POJOKSATU.id, Kota Bandung - Selama bulan puasa hingga jelang lebaran Idul Fitri Pemkot Bandung melalui Dinas Pangan dan Pertanian (DKPP) menggelar gerakan pangan murah (GMP) sebanyak 4-5 kali.

"Ya sampai menjelang sebelum lebaran.
Berarti kalau di koletif itu biasa 4-5 kali kita rencanakan, tapi Februari ini kita akan lebih padat, sekitar 6 kali. Hari ini saja ini sudah yang keempat kali," jelas Kepala DKPP Gin Gin Ginanjar, Jumat 13 Febuari 2026.

Gin Gin pun menyampaikan untuk tahun 2026 ini GMP akan diadakan di 30 kecamatan serta beberapa instansi lain seperti BI, TNI, Polri, atau sekitar 32 hingga 36 kali GMP.

Kata Gin Gin selama menyelenggarakan GMP, pihaknya mengawasi pangan mentah yang akan dibeli dan dikonsumsi masyarakat di acara tersebut.

"Bahkan kita sangat selektif. Kalau kita itu sebelum dilakukan GPM, kita lakukan pemeriksaan keamanannya. Karena kita kebetulan punya kendaraan layanan untuk keamanan pangan," imbuhnya.

Pelaksanaan GMP sendiri tergantung situasi, sehingga satu kecamatan bisa lebih dari satu kali GMP.

"Itu yang 32 dari APBD rencananya. Biasanya ada juga support-support yang lain. Seperti hari ini support dari DKPP Provinsi Jabar. Bulan ramadan ini memang diberi perhatian khusus. Penyelenggarannya lebih intent, lebih banyak biasanya. Hari ini aja kan sudah empat kali," lanjutnya.

Hasil dari Buruan Sae Utama?
Ada satu kelompok, kita selalu tahu. Nah itu juga kelebihan GPM di kota Bandung.

Selain kolaborasi dengan para distributor, DKPP pun sering mengajak komunitas Buruan SAE untuk memasarkan hasil produksinya seperti sayuran dan telur.

"Jumlahnya memang tidak terlalu banyak, tapi menampilkan. Dan tujuan utamanya untuk mengedukasi, memperlihatkan bagaimana warga Kota Bandung bisa mengembangkan, membudidayakan, sekedar di pekarangan menghasilkan pangan. Berkat kolaborasi ini kita pernah mendapatkan penghargaan dari Bapanas. Pelaksana GPM Kota Bandung terbaik pertama tahun lalu," promosinya.

Pada GMP kali ini ada 18 tenan yang bergabung, baik itu penjual pangan segar ataupun olahan hasil UMKM binaannya.

Antusias pengunjung sendiri, Gin Gin mengaku cukup memuaskan.

Pasalnya setiap penyelenggaran stok barang selalu habis terutama untuk dua komoditi beras dan telor.

Dari pagi pukul 07.00 pukul 11.00 WIB sudah habis.

"Karena harganya murah. Kemudian aksesnya juga mudah. Kualitasnya juga relatif terjamin. Perbedaannya Rp2.000-3.000 satu kilo. Contohnya ini telur ayam, hari ini harga di pasaran itu Rp30.000. Sekarang kita menjual Rp27.000 per kilo," tuturnya.