POJOKSATU.ID – Jawa Barat mencatatkan diri sebagai provinsi dengan realisasi investasi tertinggi di Indonesia sepanjang semester I 2025, dengan nilai mencapai Rp72,5 triliun.
Capaian ini disambut positif oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari kolaborasi strategis antara pemerintah dan dunia usaha.
Hal itu disampaikan Dedi usai menghadiri pembukaan Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) XXXIV Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Kota Bandung.
Baca Juga: Garuda Indonesia Masuk Daftar 10 Maskapai Paling Tepat Waktu di Dunia Loh!
Menurutnya, forum nasional Apindo menjadi momen penting untuk memperkuat sinergi lintas sektor demi menjaga keberlanjutan investasi di daerah.
“Jabar kembali menempati peringkat tertinggi nasional dalam realisasi investasi. Forum seperti Rakerkonas Apindo ini sangat penting sebagai ajang sinkronisasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha untuk menjaga momentum ini,” ujar Dedi.
Dedi menegaskan, tingginya minat investasi ke Jabar bukan kebetulan, melainkan hasil dari kebijakan terstruktur, termasuk penertiban kawasan industri, penyederhanaan perizinan, serta perbaikan iklim usaha di daerah.
Baca Juga: Begini Kata Aria Bima Politikus PIP Terkait Jenjang Karir PPPK Bakal Setara PNS!
“Salah satu indikatornya adalah penurunan drastis praktik premanisme di kawasan industri. Itu menunjukkan ada keberpihakan pemerintah dalam menciptakan rasa aman bagi investor,” jelasnya.
Gubernur yang akrab disapa KDM itu juga menyoroti pentingnya koordinasi antara kepala daerah di Jawa Barat. Menurutnya, kemudahan investasi sangat bergantung pada responsivitas dan kecakapan pemerintah daerah dalam menyambut dan melayani pelaku usaha.
“Kalau bupati dan wali kota tidak berkoordinasi dengan baik, maka realisasi investasi bisa terhambat. Maka peran orkestrasi pemerintah provinsi menjadi sangat penting,” ucapnya.
Baca Juga: 7 Kegiatan Seru di Madrasah Ibtidaiyah yang Bikin Belajar Makin Asyik dan Bermakna
Dedi juga mencatat adanya dinamika positif dalam distribusi industri di Jawa Barat. Wilayah timur seperti Indramayu, Cirebon, Kuningan, dan Majalengka mulai menjadi basis baru industri padat karya.
Sementara itu, kawasan seperti Subang kini mulai dilirik investor industri padat modal, seiring pembangunan infrastruktur strategis.
“Ini menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi kita mulai merata dan tidak lagi terkonsentrasi di wilayah tertentu. Investor melihat ada potensi besar di luar kawasan lama,” katanya.
Ia berharap Rakerkonas Apindo dapat menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat kolaborasi antara pengusaha dan pemerintah, sekaligus mendorong akselerasi reformasi struktural di bidang ekonomi.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov
“Apindo punya peran vital dalam menjembatani aspirasi pelaku usaha. Pemerintah terbuka untuk mendengar dan menyusun kebijakan yang mendukung keberlanjutan investasi,” pungkasnya. ***



