POJOKSATU.ID — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menilai, tradisi ekonomi masyarakat Jawa Barat mampu menjadi penunjang utama pengendalian inflasi di tengah kemajuan digitalisasi ekonomi.
Ia menegaskan, konsep ekonomi tradisi berbasis kearifan lokal harus tetap menjadi kerangka berpikir utama dalam menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan di wilayahnya.
Hal tersebut disampaikan Dedi saat membuka High Level Meeting (Pasamoan Agung) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah se-Jawa Barat di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karawang, beberapa waktu lalu.
“Saya berangkat dari kerangka berpikir tradisi ekonomi Jawa Barat yang terbagi dua, yaitu hamparan pedesaan dan hamparan perkotaan. Pedesaan harus jadi pusat produksi, karena prinsip orang Sunda itu saeutik mahi, loba nyesa. Artinya, produksi secukupnya tapi hasilnya berlebih,” ujar Dedi.
Ia menambahkan, konsep ekonomi tradisi seperti pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam cabai dan sayuran perlu kembali digalakkan.
Selain menekan harga komoditas pangan strategis, upaya ini sekaligus memperkuat ketahanan pangan rumah tangga.
Selain itu, Dedi meminta pemerintah kabupaten dan kota memperhatikan persoalan biaya sewa lahan yang saat ini menjadi beban bagi petani.
Baca Juga: Bendahara PBNU Soal Isu Terima Setoran Tambang Nikel Raja Ampat, Itu Tudingan yang Sangat Keji
Ia berkomitmen menata desa-desa di Jawa Barat agar kembali menjadi pusat produksi pangan berbasis tradisi ekonomi lokal.
“Ekonomi tradisi ini bisa berjalan berdampingan dengan teknologi digital. Negeri ini punya digital, punya manual, punya ekonomi berbasis teknologi, dan ekonomi berbasis tradisi. Dua-duanya harus jalan,” tegasnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Muhamad Nur, turut menekankan pentingnya nilai-nilai ekonomi tradisional dalam strategi pengendalian inflasi.
Menurutnya, warisan kearifan lokal dari leluhur Sunda memiliki prinsip dasar pengelolaan pangan dan produksi yang tetap relevan di era modern.
“Ekonomi tradisional itu harus menjadi pegangan bersama karena di dalamnya ada nilai-nilai luhur yang bisa kita terapkan untuk menjaga ketahanan pangan dan mengendalikan inflasi,” ujar Nur.
Ia memastikan, Bank Indonesia Jabar akan mendukung pengembangan SDM petani melalui program pendidikan dan pelatihan agar semakin terampil dan siap menghadapi tantangan ekonomi digital tanpa meninggalkan tradisi.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah provinsi dan Bank Indonesia sepakat bahwa sinergi antara ekonomi tradisi, teknologi digital, serta penguatan peran desa sebagai pusat produksi menjadi kunci pengendalian inflasi yang efektif di Jawa Barat. ***



